Insidious: The Last Key

Ellise Rainier facing her past to make peace with her own self and family.
Read more.

The Commuter

The commuter routine trip has changed forever when a mysterious, intriguing, yet dangerous offer come.
Read more.

Darkest Hour

Meet the real Winston Churchill, English's most important hero behind World War II.
Read more.

Dilan 1990

Iqbal Ramadhan to portray Pidibaiq's most popular novel character.
Opens Jan 25.

Maze Runner: The Death Cure

Thomas and friends to break into The Last City, the WCKD-controlled labyrinth as their final effort of adventure.
Opens Jan 24.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 15, 2018

The Jose Event Review
Sensasi Benar-Benar
Dikelilingi Adegan Film
di Format ScreenX

Pengalaman sinematik terus-terusan mengalami perkembangan dengan berbagai varian yang menawarkan pengalaman lebih. Setelah 3D, IMAX, Sphere X, 4DX, dan Starium, satu format lagi yang turut memberikan semakin banyak pilihan format bagi penonton Indonesia; Screen X. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, January 18, 2018

The Jose Flash Review
Darkest Hour

Ada alasan mengapa Sir Winston Churchill menjadi salah satu tokoh dunia paling penting di era Perang Dunia II. Selain menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris yang kontroversi pada masanya, beliau juga yang membawa Inggris memenangkan Perang Dunia II melawan NAZI Jerman. Jika pertengahan 2017 lalu kita disuguhi kisah penyelamatan tentara Sekutu bersandi Operation Dynamo di film karya Christopher Nolan, Dunkirk, maka kali ini penonton diajak mengenal tokoh yang bertanggung jawab di balik operasi penyelamatan tersebut. Diperankan oleh salah satu aktor paling versatile tapi jarang mendapatkan rekoknisi yang layak, Gary Oldman, kisah Sir Winston Churchill versi Joe Wright (Pride & Prejudice, Atonement, The Soloist, Hanna, Anna Karenina, Pan) ini disusun oleh penulis naskah Anthony McCarten (The Theory of Everything). Lily James, Kristin Scott Thomas, dan Ben Mandelsohn turut mendukung performa prima Oldman yang baru saja diganjar piala Golden Globe pertamanya lewat film bertajuk Darkest Hour (DH) ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 17, 2018

The Jose Flash Review
All the Money in the World

Ridley Scott dikenal sebagai sutradara Hollywood yang versatile dalam berkarya. Sulit untuk menemukan benang merah kekhasan dari garapannya tapi kerapkali berhasil menghantarkan tujuan-tujuannya. Mulai sci-fi macam Blade Runner atau Alien, thriller seperti Hannibal, drama periode seperti Gladiator, Kingdom of Heaven, Robin Hood, dan Exodus: Gods and Kings, perang macam Black Hawk Down, biopik seperti American Gangster, hingga drama seperti Thelma & Louise, Matchstick Men, dan A Good Year. Tahun 2017 silam beliau tergolong produktif dengan merilis dua film sekaligus. Setelah Alien: Covenant, All the Money in the World (AtMintW) yang diangkat dari kisah nyata sosok orang Amerika paling kaya, pelopor bisnis minyak di Timur Tengah, J. Paul Getty, berdasarkan buku biografi berjudul Painfully Rich: The Outrageous Fortunes and Misfortunes of the Heirs of J. Paul Getty karya John Pearson, siap berkompetisi di musim penghargaan dengan jajaran cast papan atas seperti Michelle Williams, Mark Wahlberg, dan Timothy Hutton. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 16, 2018

The Jose Flash Review
The Commuter

Meski sempat buka suara yang menimbulkan spekulasi akan rencana pensiun dari film aksi, Liam Neeson tampaknya masih bersemangat untuk beraksi di layar lebar. Di usianya yang sudah menjelang 66 tahun, kiprah action hero-nya tergolong terlambat, yaitu sejak film aksi ikonik, Taken (2008) setelah puluhan tahun lebih memilih sebagai aktor watak. Namun Neeson agaknya tidak mau membuang-buang masa keemasan sebagai action hero. Berturut-turut ada The A-Team, Unknown, The Grey, Non-Stop, A Walk Among the Tombstones, Run All Night, serta dua sekuel Taken. Di awal 2018 ini pun ia menggebrak lagi lewat The Commuter yang menandai kolaborasi keempatnya bersama sutradara Jaume Collet-Serra setelah Unknown, Non-Stop, dan Run All Night. Naskahnya disusun bersama Byron Willinger, Philip de Blasi, dan Ryan Engle (Non-Stop dan upcoming, Rampage), Liam Neeson didampingi oleh Vera Farmiga (The Conjuring), Patrick Wilson (Insidious dan The Conjuring), serta Sam Neill (Jurassic Park). Dari trailer dan materi-materi promosinya, The Commuter yang sudah didevelop sejak tahun 2010 ini menjanjikan aksi-aksi seru khas Neeson dengan bumbu thriller misteri yang bikin penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 15, 2018

The Jose Flash Review
Insidious: The Last Key

Insidious bisa jadi bukti yang paling valid bahwa film horor murah bisa menghasilkan pendapatan box office yang luar biasa besar. Dimulai tahun 2011 sebagai film horor indie berbudget ‘hanya’ US$ 1.5 juta tapi berhasil meraup US$ 97 juta lebih di seluruh dunia, ia segera berkembang menjadi franchise dengan penghasilan yang kian meningkat. Insidious: Chapter 2 yang dirilis tahun 2013 meraup US$ 161.9 juta dari budget US$ 5 juta saja dan Insidious: Chapter 3 pada tahun 2015 masih mampu mengumpulkan US$ 113 juta di seluruh dunia dari budget sekitar US$ 10 juta. Tak perlu waktu lama untuk terus melanjutkan franchise ini sebagaimana The Conjuring yang juga sama-sama menjadi pemimpin pasar franchise horor berbudget rendah di era 2010-an ini. Insidious: The Last Key (ITLK) yang awalnya direncanakan rilis pada Oktober 2017 harus menerima kemunduran perilisan 5 Januari 2018 yang termasuk masa-masa sepi persaingan. Entah strategi apa yang dilancarkan, tapi terbukti sekali lagi ITLK sukses besar memimpin box office di berbagai negara, termasuk Indonesia yang notabene penggemar berat horor. Naskah ITLK masih disusun oleh Leigh Whannell sementara bangku sutradara dipercayakan kepada Adam Robitel yang pernah cukup memukau pecinta horor lewat The Taking of Deborah Logan dan menuyusun naskah Paranormal Activity: The Ghost Dimension. Karakter ikonik Elise Rainier kembali diperankan oleh Lin Shaye, begitu pula dengan kedua ‘anak buahnya’, Specs yang diperankan Leigh Whannell sendiri dan Tucker yang masih diisi oleh Angus Sampson.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, January 14, 2018

The Jose Flash Review
Along with the Gods: The Two Worlds
[신과 함께]

Belum lama ini kita diajak mengalami apa yang terjadi setelah kematian dari kacamata kebudayaan Meksiko oleh Disney-Pixar lewat film animasi, Coco. Kini sinema Korea Selatan pun tak mau kalah mengajak audience-nya ‘mengalami’ akhirat menurut ajaran Budhist yang mempercayai adanya banyak penghakiman akhir yang harus dilalui tiap individu ketika meninggal dunia sesuai amal perbuatannya selama hidup. Dengan kemasan petualangan yang mengandalkan kualitas visual effect dan CGI sebagai keunggulan utamanya, Along with the Gods: The Two Worlds (AwtG) yang diangkat dari webtoon populer berjudul sama ini dipercayakan di tangan Kim Yong-hwa (200 Pounds Beauty dan Mr. Go) dan memasang nama-nama bintang papan atas Korea Selatan, mulai Ha Jung-woo (The Berlin File, Kundo: Age of the Rampant, Assassination, The Handmaiden), Cha Tae-hyun (My Sassy Girl, Hello Ghost), Ju Ji-hun (K-drama Princess Hours), serta Kim Hyang-gi (A Werewolf Boy).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 1, 2017

The Jose Flash Review
Mata Batin

Trend horor di sinema Indonesia dimanfaatkan dengan baik oleh Hitmaker Studios sebagai anak perusahaan Soraya Intercine Films yang sejatinya sudah konsisten di genre tersebut sejak 2012. Setelah sukses The Doll 2 baik secara komersial maupun pencapaian kualitas, mereka mencoba peruntungan lagi lewat Mata Batin (MB) dengan menggandeng Jessica Mila, Denny Sumargo, Citra Prima, Epy Kusnandar, dan Bianca Hello yang belum lama ini kita lihat di Mereka yang Tak Terlihat. Sementara bangku sutradara masih diduduki oleh Rocky Soraya sendiri, naskah pun masih dipercayakan kepada Riheam Junianti yang sudah menulis semua naskah film-film produksi Hitmaker Studios dengan sekali lagi dibantu oleh Fajar Umbara setelah The Doll 2
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 29, 2017

The Jose Flash Review
Daddy's Home 2

Will Ferrell selama ini dikenal sebagai salah satu komedian Amerika Serikat yang guyonannya punya segmen tersendiri. Tak semua bisa memahami letak kelucuan humornya, sementara pihak lain ada yang dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkahnya. Banyak materi humornya yang terkesan kasar dan tak senonoh sehingga image film-film komedinya seringkali dilabeli dewasa. Maka ketika muncul sebagai seorang ayah yang berusaha mencuri hati anak-anak tirinya sekaligus bersaing dengan ayah kandung mereka, Daddy’s Home (DH) menjadi film yang menarik perhatian sekaligus mengundang rasa penasaran. Bisakah seorang Will Ferrell tetap lucu dengan materi yang ramah-keluarga? Nyatanya DH berhasil mendulang total US$ 242.8 juta di seluruh dunia meski review kritikus termasuk beragam. Wajar jika ada yang benci sekali tapi ada pula yang berhasil terhibur (polling di CinemaScore rata-rata memberikan B+). Kesuksesan ini menggoda Paramount untuk membuatkan sekuelnya. Sean Anders (Horrible Bosses 2) masih dipercaya duduk di bangku sutradara dengan naskah yang juga masih dibantu oleh John Morris (Hot Tub Time Machine, We’re the Millers, Horrible Bosses 2). Formula yang dipakai adalah menambahkan karakter-karakter baru yang diyakini mampu ‘memperkeruh’ keadaan. Bertajuk Daddy’s Home 2 (DH2), kali ini ada Mel Gibson dan John Lithgow yang didapuk mengisi peran ayah dari Mark Wahlberg dan Will Ferrell. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Murder on the Orient Express
[2017]

Penggemar genre detektif pasti mengenal sosok Hercule Poirot (baca: Erkyul Pwarou), detektif fiktif asal Belgia rekaan Agatha Christie yang sudah muncul dalam 33 judul novel, lebih dari 50 cerpen sejak tahun 1920, dan sudah diadaptasi dalam berbagai medium, seperti sandiwara radio, film layar lebar, dan TV. Tak hanya di Inggris dan Amerika Serikat, tapi juga di Jerman, Rusia, bahkan hingga Jepang. Namun judul yang paling sering diadaptasi adalah Murder on the Orient Express (MotOE). Setelah versi tahun 1974 arahan Sidney Lumet dengan ensemble cast kelas A macam Albert Finney, Lauren Bacall, Ingrid Bergman, Jacqueline Bisset, Jean-Pierre Cassel, Anthony Perkins, Sean Connery, dan Vanessa Redgrave, versi FTV tahun 2001 yang dibintangi Alfred Molina, serta salah satu episode serial Agatha Christie’s Poirot, 20th Century Fox berinisiatif untuk memperkenalkan kembali sosok Hercule Poirot ke generasi masa kini dengan menunjuk Michael Green (Logan, Alien: Covenant, Blade Runner 2049) selaku penyusun naskah adaptasi dan Kenneth Branagh sebagai sutradara. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 28, 2017

The Jose Flash Review
Tumhari Sulu
[तुम्हारी सुलु]

Di antara jajaran aktris papan atas sinema Hindi (baca: Bollywood), Vidya Balan termasuk salah satu yang paling dihormati dan ‘dipandang’, terutama lewat film-film seperti Salaam-E-Ishq, Ishqiya, No One Killed Jessica, The Dirty Picture, hingga yang paling melambungkan namanya, Kahaani. Di tengah tema women empowerment yang makin nyaring didengungkan sinema Hindi akhir-akhir ini, Balan mengambil peran sebagai seorang ibu rumah tangga berpendidikan rendah tapi bermimpi besar, Sulochana atau yang biasa dipanggil Sulu, lewat Tumhari Sulu (TS - dalam bahasa Inggris: Your Sulu). Merupakan debut penulisan naskah serta sutradara film panjang dari Suresh Triveni (sebelumnuya dikenal lewat film-film pendek), TS didukung pula oleh penampilan aktris sekaligus mantan Miss India yang baru saja kita lihat di Qarib Qarib Singlle, Neha Dhupia, Manav Kaul (Kai po che!, Wazir, Jolly LLB 2), dan debut layar lebar seorang penyiar radio di Red FM 93.5, RJ Malishka Mendonsa.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates