Thor: Ragnarok

Thor found Hulk to save Asgard from apocalypse caused by his eldest sister.
Read more.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Opens November 16.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Opens November 15.

Paddington 2

The British's most popular bear is back for some more family adventure.
Opens November 10.

Jigsaw

John Kramer a.k.a. Jigsaw is apparently still far away from death.
Read more.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 15, 2018

The Jose Event Review
Sensasi Benar-Benar
Dikelilingi Adegan Film
di Format ScreenX

Pengalaman sinematik terus-terusan mengalami perkembangan dengan berbagai varian yang menawarkan pengalaman lebih. Setelah 3D, IMAX, Sphere X, 4DX, dan Starium, satu format lagi yang turut memberikan semakin banyak pilihan format bagi penonton Indonesia; Screen X. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, November 18, 2017

The Jose Flash Review
Qarib Qarib Singlle
[करीब करीब सिंगल]

Salah satu formula paling generik dari genre drama romantis (termasuk juga komedi romantis) adalah mempertemukan dua individu dengan sifat yang berlawanan hingga akhirnya saling jatuh cinta. Sudah begitu banyak film dengan formula dasar seperti ini dengan berbagai variasinya. Mulai macam When Harry Met Sally, You’ve Got Mail, The Proposal, hingga Before Trilogy dari Richard Linklater yang begitu legendaris. Sinema Korea Selatan juga punya Mood of the Day dan bahkan sinema Hindi baru saja menghadirkan When Harry Met Sejal. Formula serupa, bahkan dengan konsep dialog-driven dan taveling a la Before Trilogy, sekali lagi coba dihadirkan oleh penulis naskah/sutradara Tanuja Chandra (penulis naskah salah satu film SRK paling fenomenal, Dil To Pagal Hai) lewat Qarib Qarib Singlle (QQS - secara harafiah berarti “nyaris jomblo”) yang memasangkan aktor Bollywood yang sudah mendunia lewat produksi Hollywood seperti Life of Pi, The Amazing Spider-Man, Jurassic World, dan Inferno, Irrfan Khan dan Parvathy yang mana ini merupakan debutnya di sinema Hindi setelah selama ini lebih banyak berkiprah di sinema Malayalam. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Paddington 2

Butuh waktu 56 tahun bagi karakter beruang bernama Paddington ciptaan Michael Bond untuk tampil dalam format film live action panjang setelah menjadi salah satu representasi Inggris di panggung dunia lewat buku cerita, boneka, dan serial animasi. Terbukti film perdana Paddington mendapatkan sambutan hangat yang terbukti lewat penghasilan sebesar US$ 268 juta di seluruh dunia dengan budget yang ‘hanya’ € 38.5 juta atau sekitar US$ 50-55 juta, serta review yang serba positif. Maka rencana melanjutkan franchise dapat berjalan dengan lebih mulus. Semua cast pengisi karakter penting kembali, termasuk Ben Wishaw (Skyfall, Perfume: The Story of a Murderer) sebagai pengisi suara sang tokoh titular. Begitu juga David Heyman (franchise Harry Potter) selaku produser dan Paul King kembali mengisi posisi sutradara sekaligus penulis naskah, yang kali ini dibantu oleh Simon Farnaby (kreator serial Yonderland). Sementara Hugh Grant dan Brendan Gleeson turut meramaikan jajaran cast serta tentu saja menambah daya tarik sekuelnya. Tak tanggung-tanggung. Saking optimisnya, King sudah mempersiapkan installment ketiga bahkan sebelum installment kedua mulai diproduksi. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Chasing the Dragon
[追龍]

Action-thriller mafia bisa dianggap sebagai genre yang mendefinisikan sinema Hong Kong, terutama era ‘80-90-an. Termasuk salah satunya adalah karakter nyata legendaris, Ng Sik-ho alias Crippled Ho dan opsir polisi korup, Lui Lok alias Lee Rock yang pernah diangkat ke layar lebar lewat duologi Lee Rock dan To Be Number One. Wong Jing sebagai salah satu sineas paling populer di medio era tersebut dengan karya-karya legndaris seperti God of Gamblers, City Hunter, dan The New Legend of Shaolin, mencoba kembali menghadirkan duo sosok legendaris ini ke satu layar. Tak hanya memasang Donnie Yen di lini terdepan, tapi juga menggandeng kembali Andy Lau untuk memerankan karakter yang sama, Lee Rock, beserta seabreg aktor-aktor Hong Kong legendaris lainnya seperti Kent Cheng, Felix Wong, Ken Tong, Philip Keung, hingga generasi yang lebih muda seperti Xu Dongdong Xu alias Raquel Xu dan Jonathan Lee. Chasing the Dragon (CtD) yang dalam dunia narkotika merupakan istilah slang dalam bahasa Kanton untuk menggambarkan upaya mendapatkan efek fly dari heroin, jelas merupakan salah satu upaya paling ambisius dari Wong Jing setelah seratus lebih film yang pernah digarapnya sejak 1981.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 17, 2017

The Jose Flash Review
Wage

Indonesia agaknya tak akan pernah kekurangan tokoh untuk diangkat ke layar lebar sebagai sebuah biopik. Selalu ada saja tokoh yang sebenarnya selama ini punya peranan penting bagi bangsa Indonesia tapi belum banyak yang mengetahui kisahnya. Maka upaya yang dilakukan Opshid Media hingga bersedia mengucurkan dana sebesar 16 miliar rupiah untuk memproduksi Wage, film biopik dari pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman. Mempercayakan penyutradaraan ke tangan John De Rantau (Denias, Senandung di Atas Awan, Generasi Biru, Obama Anak Menteng, Semesta Mendukung, dan Mars: Mimpi Ananda Raih Semesta), naskahnya disusun oleh Fredy Aryanto (Ketika Mas Gagah Pergi the Movie, Duka Sedalam Cinta) dan Gunawan BS berdasarkan riset yang konon dilakukan dengan serius mengingat minimnya informasi maupun literatur tentang kehidupan sang tokoh. Rendra Embun Pamungkas yang selama ini lebih dikenal sebagai aktor Teater Gandrik Muda didapuk merepresentasikan sosok Wage, didukung aktor-aktris yang lebih berpengalaman di layar lebar seperti Teuku Rifnu Wikana, Putri Ayudya, dan Prisia Nasution.
Wage kecil lebih cenderung menyukai kesenian, khususnya seni musik dibandingkan teman-teman sebayanya. Ketika pergolakan perjuangan terhadap pemerintah Hindia Belanda, Wage harus kehilangan sang Ibu yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Beruntung ia diadopsi oleh keluarga Belanda yang kemudian menyekolahkannya dan mempertemukannya dengan biola. Namun pergulatan batin dan perlakuan orang-orang Belanda terhadap dirinya yang masih dianggap pribumi membuatnya aktif di berbagai kegiatan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mulai menjadi jurnalis, mengikuti organisasi pemuda, hingga menggubah lagu-lagu yang mengobarkan semangat perlawanan rakyat. Lahirlah lagu-lagu seperti Dari Barat Sampai ke Timur, Indonesia Wahai Ibuku, Di Timur Matahari, RA Kartini, dan puncaknya lagu yang kemudian diabadikan sebagai lagu kebangsaan Indonesia Raya. Meski sebagai konsekuensi ia harus menghadapi pemerintah Hindia Belanda yang menganggap lagu-lagu gubahannya mengancam eksistensi serta wibawa mereka.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 13, 2017

The Jose Flash Review
My Generation

Generation gap adalah isu sosial yang selalu terjadi pada generasi maupun masa apapun mengingat selalu terjadi pergantian sekaligus perubahan yang cukup signifikan antar generasi. Perbedaan yang terasa kian meruncing di era media sosial yang mendorong tiap individu untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan berpikir semakin kritis. Padahal disadari atau tidak, kasus serupa tapi tak sama juga terjadi di generasi-generasi sebelumnya. Itulah yang ingin diangkat oleh Upi, sutradara wanita yang karyanya selalu berjiwa ‘muda’, terutama lewat tema content, desain produksi, hingga pilihan soundtrack. Setelah 2005 lalu ia sempat menyuarakan jiwa muda pada generasinya lewat Realita Cinta dan Rock n’ Roll (RCRR), kini ia tergugah untuk menyelami generasi ‘kids jaman now’ lewat suguhan terbarunya, My Generation (MG). Bertindak selaku co-producer, penulis skrip, dan sutradara, Upi berani menggandeng empat aktor-aktris utama muda yang belum pernah berakting di layar lebar sebelumnya; Bryan Langelo, Arya Vasco, Lutesha, dan Alexandra Kosasie. Tentu saja didukung pula oleh aktor-aktris yang sudah lebih senior seperti Tyo Pakusadewo, Aida Nurmala, Surya Saputra, Ira Wibowo, Karina Suwandi, Indah Kalalo, dan Joko Anwar. Menjadikan MG sajian yang menjanjikan sesuatu yang fresh dan youthful.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 10, 2017

The Jose Flash Review
Jigsaw

Mungkin tak ada yang menyangka, termasuk James Wan sendiri, bahwa Saw (2004), film horor indie low budget akan laris manis (film pertama berhasil menghasilkan US$ 103.9 juta di seluruh dunia ‘hanya’ dengan budget US$ 1.2 juta saja!) berkembang menjadi salah satu franchise horor berumur panjang. Bahkan melebihi Final Destination yang sama-sama bertumpu pada adegan-adegan slasher sadis berdarah. Angka penjualannya mungkin tak selalu meningkat, tapi bagaimana pun termasuk sangat menguntungkan mengingat budget yang rendah. Setidaknya installment terakhir, Saw 3D (2010) masih berhasil mencetak US$ 136 juta lebih di seluruh dunia. Saw 3D yang tadinya akan dibagi menjadi dua bagian akhirnya hanya disetujui satu film oleh Lionsgate selaku pemegang lisensi franchise. Penulis naskah Marcus Dunstan dan Patrick Melton menyebutkan alasan mengapa ending installment tersebut malah justru menambah pertanyaan daripada menjawab. Berselang tujuh tahun (padahal sebelum-sebelumnya rajin merilis installment baru tiap tahun) kemudian, Lionsgate tertarik dengan ide pitch dari Josh Stolberg dan Peter Goldfinger (Sorority Row, Piranha 3D) yang sudah bertahun-tahun mengejar kesempatan untuk mengerjakan salah satu proyek Saw. Michael dan Peter Spierig (Daybreakers, Predestination) kemudian dipilih untuk duduk di bangku sutradara, sementara nama-nama aktor yang selama ini belum terlalu dikenal dipilih untuk mengisi layar dan tentu saja kembalinya Tobin Bell sebagai karakter ikonik John Kramer alias Jigsaw yang menandai bahwa sepak terjangnya masih belum benar-benar usai.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, November 9, 2017

The Jose Flash Review
Ittefaq
[इत्तेफाक]

Sinema Hindi memang masih tergolong jarang menghadirkan genre thriller dibandingkan drama romantis atau komedi yang mendominasi. Namun sekalinya ada tak main-main. Ittefaq adalah salah satu thriller Hindi besutan sineas legendaris Yash Chopra tahun 1969 silam yang dibintangi oleh Rajesh Khanna dan Nanda. Merupakan remake dari Signpost to Murder (1964), butuh waktu 48 tahun bagi Ittefaq untuk kembali di-remake. Adalah Abhay Chopra (cucu dari B.R. Chopra yang merupakan partner bisnis sekaligus adik kandung dari Yash Chopra) yang didukung oleh seantero keluarga Chopra, Shah Rukh Khan, Karan Johar, Gauri Khan, dan Hiroo Yash Johar yang ditunjuk untuk menjadikan remake ini sebagai karya debut penyutradaraannya. Jajaran cast yang dipilih pun sangat menjanjikan. Ada Sidharth Malhotra (Student of the Year, A Gentleman), Sonakshi Sinha (Dabangg, Rowdy Rathore, Force 2, Noor), dan Akshaye Khanna (Salaam-E-Ishq, Race, Dishoom, Mom). 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 8, 2017

The Jose Flash Review
Thank You for Your Service

Tema Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) paska perang termasuk sering diangkat ke layar lebar dengan membidik berbagai angle dan treatment. Terakhir kita lihat Man Down yang dibintangi ShiaLaBeouf dan Kate Mara. Sementara yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah American Sniper besutan Clint Eastwood dan memenangkan satu Oscar dari enam kategori nominasi yang diraih. Seolah ingin mengulang sukses atau ada elemen-elemen lain yang ingin dimasukkan, Jason Hall, sang penulis naskah adaptasi, mencoba untuk kembali mengangkat tema serupa dengan mengambil dasar dari novel non-fiksi berjudul Thank You For Your Service (TYFYS) karya reporter The Washington Post pemenang penghargaan Pulitzer, David Finkel. Tak hanya bertindak sebagai penyusun naskah, Hall juga berani duduk di bangku penyutradaraan untuk pertama kalinya. Menggandeng Miles Teller yang tampaknya makin rajin mengejar peran-peran serius seperti di Bleed for This dan Only the Brave, didukung pula oleh Haley Bennett (The Magnificent Seven versi 2016, The Girl on the Train), Beulah Koale, Joe Cole (Secret in Their Eyes, Green Room), Scott Haze (Midnight Special, Only the Brave), dan Amy Schumer (Trainwreck).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Flatliners [2017]

Tahun 1990 silam Flatliners menjadi film drama thriller sci-fi dengan tema yang cukup unik. Berfantasi mengulik apa yang terjadi setelah kematian, sutradara Joel Schumacher (St. Elmo’s Fire, The Lost Boys, Dying Young, The Client, Batman Forever, A Time to Kill) menggabungkan sci-fi medis dengan alam ‘spiritual’ menjadi sajian misteri yang mencekam tapi logis. Apalagi dukungan A-list star kala itu, mulai Kiefer Sutherland, Julia Roberts, Kevin Bacon, William Baldwin, dan Oliver Platt, tak heran jika Flatliners menjadi salah satu drama thriller sci-fi yang ikonik hingga saat ini. Seperti biasa, Hollywood tak pernah tak tertarik untuk membawa kembali karya-karya ikoniknya. Tahun 2017 ini Flatliners yang mendapat giliran. Alih-alih dijadikan sebagai sebuah sekuel ataupun spin-off, penulis naskah Ben Ripley (Source Code, Boychoir) dan sutradara Niels Arden Oplev (The Girl with the Dragon Tattoo versi asli Denmark dan Dead Man Down) mencoba me-remake dengan penyegaran-penyegaran yang disesuaikan dengan target audience remaja saat ini. Mendapatkan rating PG-13 (versi asli berating R) menjadi salah satu upayanya. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates