Galih dan Ratna

The Indonesia's very own romantic couple has been reborn to the millenial era.
Opens March 9. Read more.

Moammar Emka's Jakarta Undercover

The Jakarta's famous night life is going to be a hype one more time!
Read more.

Kong: Skull Island

The giant King Kong roars again!
Opens March 8. Read more.

Logan

Hugh Jackman to portray Wolverine for one last time.
Read more.

Beauty and the Beast

Disney to bring the classic magical animation to live action with Emma Watson!
Opens March 17.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?

Thursday, March 30, 2017

The Jose State of Mind
VOD Streaming Service:
A Substitute or a Complement
on How People Watching Movies?

How come people enjoy streaming movies to the max?

Sebagai seorang moviegoers sejak kecil, bioskop dan home video selalu menjadi pilihan utama saya untuk menonton film. Bioskop sebagai format yang menawarkan pengalaman terbaik dalam menikmati film, yang sampai sekarang pun masih menjadi tujuan pembuatan film yang utama. Teknis-teknis pembuatan film termaksimal dimaksudkan untuk bisa dinikmati di layar bioskop dengan fasilitas mumpuni. Sementara home video menjadi alternatif ketika suatu film tak dirilis di bioskop lokal atau koleksi untuk binge-watch film-film paling favorit kapan saja. Apalagi dengan dukungan perangkat home theatre yang cukup mendukung (setidaknya ada LCD 42" dan tata suara 5.1). Meski tak sedahsyat di bioskop, tetapi tetap terasa maksimal dengan perbandingan ukuran ruangan. Channel khusus movie di TV berbayar pun tak pernah membuat saya berpikir untuk berlangganan, karena toh kebanyakan sudah saya tonton di bioskop. Yang belum ditonton pun saya lebih memilih format DVD karena faktor fleksibelitas waktu. Dua pilihan format ini saya pegang teguh bahkan setelah era digital dimana film-film bisa dinikmati secara streaming ataupun digital download.

Monday, March 20, 2017

The Jose Flash Review
Bid'ah Cinta


Jika tema cinta beda agama masih menjadi isu sensitif kendati sudah sering diangkat (dengan ending serta konklusi yang masih lebih sering ‘main aman’), bagaiman dengan cinta sesame agama tapi beda aliran? Dilema, bahkan konflik yang tak kalah pelik itulah yang coba dihadirkan oleh Nurman Hakim (3 Doa 3 Cinta, Khalifah, dan The Window) lewat Bid’ah Cinta (BC) yang diproduksi di bawah bendera Kaninga Pictures. Dengan naskah yang disusunnya sendiri bersama Zaim Rofiqi dan Ben Sohib, BC menghadirkan Ayushita, Dimas Anggara, dan Ibnu Jamil, dengan dukungan dari Dewi Irawan, Alex Abbad, Ronny P. Tjandra, Fuad Idris, Ade Firman Hakim, Jajang C. Noer, Tanta Ginting ,Khiva Iskak, dan mantan bintang cilik yang melanjutkan kerjasama dengan Nurman setelah The Window, Yoga Pratama.

The Jose Flash Review
Trinity, The Nekad Traveler


Traveling yang dulunya dianggap sebagai hobi eksklusif kian hari kian me-‘rakyat’, terutama setelah ada blog, low-cost carrier, dan social media. Salah satu ikon traveling asal Indonesia yang paling populer saat ini adalah Trinity, seorang traveling blogger yang sudah menelurkan delapan buku bertemakan traveling best seller, termasuk lima di antaranya seri The Naked Traveler. Buku-buku ini dianggap informatif, menghibur, sekaligus menginspirasi banyak orang untuk turut menjadi traveler, bukan sekedar wisatawan (perbedaan keduanya sudah sering dibahas di berbagai media bertemakan traveling). Tinggal menunggu waktu saja hingga ada PH yang tertarik mengangkatnya ke layar lebar. Adalah Tujuh Bintang Sinema yang pernah memproduksi Air Mata Surga tahun 2015 lalu yang berhasil mendapatkan hak adaptasi ke layar lebar dengan judul Trinity, The Nekad Traveler (TTNT) sebagai karya keduanya. Rahabi Mandra (Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, Air Mata Surga, Hijab, 2014: Siapa di Atas Presiden, Senjakala di Manado, From London to Bali, dan upcoming, Night Bus) ditunjuk untuk mengadaptasi naskah, sementara Rizal Mantovani (Jelangkung, Kuntilanak Trilogy, Air Terjun Pengantin, 5 cm, Supernoba: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. Aktris muda yang pernah mempesona kita di Perahu Kertas, Maudy Ayunda, dipasang untuk memerankan sosok Trinity, didukung Hamish Daud Wyllie, Babe Cabiita, Rachel Amanda, Anggika Bolsterli, Ayu Dewi, Cut Mini, Farhan, dan cameo dari Tompi.

The Jose Flash Review
Badrinath Ki Dulhania
[बद्रीनाथ की दुल्हनिया]


Jika memperhatikan tema sinema Hindi beberapa tahun terakhir, Anda akan kerap menemukan tema feminisme atau women empowerment. Selain tingginya kasus pelecehan terhadap wanita yang sempat menjadi isu internasional yang hangat, masyarakat India tampaknya masih banyak yang menganut budaya tradisional yang cenderung memposisikan wanita di bawah kaum pria. Sutradara/penulis naskah Shashank Khaitan yang tahun 2014 lalu sukes menghantarkan film komedi romantis, Humpty Sharma Ki Dulhania (HSKD), menjadi box office besar dan semakin melambungkan pasangan Varun Dhawan dan Alia Bhatt setelah breathrough performance di Student of the Year, turut mengikuti jejak trend ini. Produser Karan Johar memberikan lampu hijau kepada Khaitan untuk mengembangkan HSKD menjadi sebuah franchise. Badrinath Ki Dulhania (BKD – yang dalam bahasa Inggris punya arti harafiah ‘The Bride of Badrinath’) bukanlah sebuah sekuel langsung dari HSKD meski masih mengusung Dhawan-Bhatt sebagai pasangan utama. Lebih merupakan kesatuan franchise dengan persamaan tema tapi cerita yang sama sekali berbeda, seperti halnya Kahaani dan Jolly LLB.

Sunday, March 19, 2017

The Jose Flash Review
Hidden Figures


Oscar 2016 yang dicap ‘OscarSoWhite’ membuat studio-studio Hollywood berlomba-lomba mengangkat tema anti-racism, khususnya terhadap kaum kulit hitam, dengan harapan dilirik Oscar 2017 yang seolah disengaja mengusung tema diversity. Selain Moonlight yang dengan masif dipromosikan oleh distributornya di berbagai ajang penghargaan bergengsi internasional, sebenarnya masih ada Hidden Figures (HF) yang mengangkat kisah nyata tiga wanita kulit hitam pertama yang punya andil besar di tahun-tahun awal NASA. Diadaptasi dari novel biografi berjudul sama yang disusun oleh Margot Lee Shetterly, naskahnya disusun oleh Allison Schroeder dan Theodore Melfi yang juga merangkap bangku sutradara. Keduanya tergolong ‘baru’ di layar lebar (mainstream). Melfi sendiri baru dikenal lewat Winding Roads (1999) dan St. Vincent (2014). Namun kualitas mereka tak boleh diremehkan. Terbukti dari nominasi Oscar untuk naskah adaptasi yang mereka susun bersama. Ditambah jajaran aktor-aktris yang menarik, mulai Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monáe, Kevin Costner, Kirsten Dunst, hingga Mahershala Ali yang tahun ini benar-benar angkat nama berkat Moonlight.

Saturday, March 11, 2017

The Jose Flash Review
Silence

Sejak lama saya percaya bahwa agama apa saja awalnya disebarkan bukan dengan pengkotak-kotakan atau pelabelan seperti saat ini. Pengalaman pribadi akan tumbuh menjadi iman yang jauh lebih kuat ketimbang sekedar 'mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya'. Gereja Katolik Roma yang punya sejarah panjang berkali-kali mengalami pergolakan, mulai ajaran yang dijalankan secara puritan hingga fleksibel mengikuti perkembangan jaman seperti saat ini. Salah satu episode yang menjadi 'pelajaran' penting dalam penyebaran agama tertuang dalam novel fiksi historis berjudul Silence (沈黙 / Chinmoku) karya Shūzaku Endō yang pertama kali dipublikasikan tahun 1966. Sempat diangkat ke layar lebar dengan judul sama di tahun 1971 oleh sutradara Masahiro Shinoda. Meski mendapatkan apresiasi kritik internasional, versi Shinoda ini tidak disukai oleh Endō karena perubahan ending yang dianggap mempengaruhi esensi keseluruhan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates