Minggu, 16 Maret 2014

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

Pin It!



The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Fungsi Review Film
Kontroversi berlanjut ketika ada yang mempertanyakan fungsi “review film”. Ada yang berpendapat review hanya berguna bagi calon penonton untuk memutuskan hendak menonton suatu film atau tidak. Intinya, filmnya bagus atau jelek. End of story. Saya tidak sependapat. Menurut saya, setiap film itu berbeda dan kita tidak bisa menggunakan kacamata yang sama untuk menilai atau menikmati setiap film. Ada film yang murni hanya sebagai hiburan (lebih banyak hanya jualan visual efek atau humor-humor ringan, yang di Hollywood sering disebut popcorn movie), ada yang merupakan karya seni yang kadang bertutur secara metaforik, ada pula yang memang memiliki gagasan tertentu yang ingin disampaikan kreator kepada penontonnya. Itu pun setiap sutradara bebas untuk menggunakan berbagai teknik penceritaan dan pengambilan gambar, ada yang linear maupun non-linear, ada yang berupa documentary (bisa juga mockumentary) maupun film cerita konvensional (tiga babak). Apabila kita mau lebih membuka diri akan berbagai jenis film yang ada sebenarnya jauh lebih menarik, ketimbang hanya film-film pop corn standard Hollywood.
Sebagai seorang yang juga turut ambil bagian dari dunia film, fungsi review film lebih dari sekedar penentu keputusan menonton suatu film atau tidak. Review juga menjadi media pembelajaran bagi saya. Belajar untuk mengetahui seperti apa sih standard film bagus yang paling hakekat, lebih dari film sekedar sebagai hiburan. Jika merasakan sesuatu yang salah dari sebuah film, apa yang menjadi faktornya; apakah skripnya yang berantakan, apakah sutradaranya yang kurang bisa menerjemahkan skrip, apakah editornya yang kurang piawai menyajikan gambar menjadi lebih atraktif, dan lain sebagainya. Berkat review-review profesional yang membahas tiap aspek film secara detail, saya menjadi lebih tahu tentang berbagai aspek pembuatan film, dan tentunya bisa lebih menghargai film sesuai dengan hakekatnya sebagai sebuah seni gambar bergerak, tidak hanya seni pertunjukan layaknya sirkus. Review bisa menjadi semacam "karya ilmiah" atau "jurnal" bagi siapa saja yang tertarik menjadi bagian dari dunia film, baik praktisi seperti sutradara, editor, produser, aktor, maupun penonton dan pecinta film (sejati).
Walaupun sudah menyaksikan suatu film dan menuliskan review versi sendiri, terkadang saya masih tertarik untuk membaca review dari berbagai orang, baik yang sudah established seperti Roger Ebert, maupun sesama blogger yang khusus me-review film. Saya tertarik untuk mengetahui bagaimana pemikiran/opini orang lain tentang suatu film. Siapa tahu saya melewatkan poin-poin ketika menyaksikannya sendiri. Dari situ saya bisa memperkaya diri dengan pengetahuan dan kemampuan dalam menikmati film. Menikmati film saja perlu kemampuan khusus? Benar sekali! Satu lagi nih fungsi film buat saya, mengasah ketajaman menganalisa sesuatu!
Mengapa saya tidak bisa menikmati film-film pemenang Awards?
Dulu ketika masih SMA saya ingat ada seorang teman yang berujar seperti ini, "Koq kamu sukanya film-film kayak American Pie dan Scary Movie sih? Keren sih, tapi ga ada isinya. Coba deh sekali-sekali nonton film drama atau thriller yang lebih berbobot". Thanks to her for such a slap. Semenjak itu saya mulai menonton dan mencoba untuk mengamati serta mengerti film-film yang lebih berbobot. Film-film nominee penghargaan bergengsi seperti Academy Awards dan Cannes pun menjadi bahan pembelajaran saya yang baru.
Dari titik itulah, wawasan saya tentang film jadi jauh lebih luas. Referensi saya pun menjadi lebih beragam karena saya membuka diri untuk menyaksikan film Eropa dan negara-negara asing lainnya yang jauh berbeda dari pakem bagaimana sebuah film seharusnya yang selama ini ditanamkan Hollywood dalam benak kita. Since then, sorry Hollywood... most of your movies are boring and no longer getting much of my attention. You can deceive them shallow people who was amazed by your fake effects, but not me. I'm getting better than that! :)
Seperti yang sudah saya sampaikan di poin pertama, saya sekarang menjadi kesal kalau ada orang yang dengan sok pintarnya berpendapat, "Pokoknya film-film yang menang penghargaan itu jelek." Saya berpikir, koq bisa yah mereka begitu pede dengan selera film mereka? Tidakkah mereka penasaran, apa sih yang bikin film-film seperti itu menang penghargaan? Juri-juri penghargaan bergengsi seperti itu pasti jauh lebih kompeten di bidangnya lho ketimbang penonton awam seperti kita. Ketika menonton film yang menang penghargaan tapi kurang bisa saya mengerti maksudnya, saya langsung browsing di forum-forum IMDB. Saya tidak pede lho dengan tingkat intelektual saya sendiri, tapi saya membuka diri untuk tahu lebih, dan dari situ saya belajar banyak hal dan akhirnya bisa mendapatkan sesuatu dari film yang saya tonton.
Yah yah... saya harus bisa menerima bahwa tidak semua orang penasaran dan tertarik mempelajari berbagai hal, tetapi ada juga orang-orang yang malas, yang penting senang sudah cukup. Ada orang yang tidak mementingkan sebuah film happy ending atau sad ending, yang penting memberikan kesimpulan yang kuat, tapi ada pula yang asal happy ending saja sudah senang. Ada orang yang niat kuliah untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman lebih, ada pula orang yang kuliah cuma mengejar gelar padahal merasa tidak mendapatkan apa-apa di bangku kuliah. Beda ekspektasi, dan ketika saya belajar untuk memahami kaum seperti ini, saya juga berharap mereka tidak lantas mencaci-maki suatu film hanya karena mereka tidak mengerti apa yang mereka tonton.
Jadilah penonton yang cerdas, ketahui seperti apa gambaran film yang akan Anda tonton daripada memaksakan diri tapi malah bikin kesal sendiri karena merasa rugi bayar tiket dan juga mengganggu orang lain berkat omelan-omelan Anda di dalam studio. Jika Anda malas menganalisis film yang membutuhkan analisis untuk bisa mengerti maksudnya, ya tidak perlu ditonton ketimbang Anda hanya merusak reputasi film yang Anda tonton. Fair enough, kan?
Kriteria The Jose Movie Review
Setiap reviewer punya kriteria sendiri-sendiri dalam menilai suatu film. Ada yang merating dengan skala 1-5, ada pula yang menggunakan skala 1-10. Jika semua orang bebas untuk menetapkan kriteria apa saja dalam menilai apa saja, maka reviewer film juga bebas memberikan skala nilai untuk tiap film yang ditontonnya, tentu saja disertai dengan argumen yang masuk akal untuk mempertahankan reputasi si reviewer sendiri.
Saya sendiri menggunakan skala 1-5 untuk The Jose Movie Review. Sejauh ini saya belum pernah memberikan skala nilai 1 untuk film apapun. Skala terendah yang pernah saya berikan selama ini adalah 2. Seburuk apapun filmnya, saya masih menghargai proses pembuatan film yang tidak mudah. Tapi bukan tidak mungkin juga yah ke depannya saya memberikan skala 1 atau 1,5. Saya sendiri tidak pernah menetapkan arti dari tiap skala yang saya berikan karena saya berusaha menggunakan kacamata yang berbeda-beda untuk tiap film. Skala 4 untuk film popcorn bukan berarti lebih baik daripada film serius yang saya beri skala 3 atau 3.5. Skala yang saya berikan murni berdasarkan naluri saya pribadi. Never set ones, I just knew how many numbers I have to give to that movie.
Kendati demikian, untuk mendapatkan skala 5 yang sangat jarang saya berikan, film tersebut harus membuat saya katarsis. Reviewer lain ada yang berpendapat tidak mungkin ada film yang bisa mencapai kesempurnaan seperti itu (5/5 atau 10/10), tapi bagi saya film bisa mencapai kesempurnaan dengan cukup memberikan kriteria saya tadi. Tidak banyak yang bisa, tapi ada. Maka dari itu tak heran jika ada film legendaris yang dianggap sebagai sebuah masterpiece, yang tetap diingat dan dihargai sepanjang jaman.
Ilustrasi sederhana kriteria skala saya seperti ini :
1-1,5 Total crap
2-2,5 Tidak menarik, tidak ada isinya, dan alih-alih menghibur malah mengganggu
3        Premise menarik, sayang eksekusinya kurang bisa menerjemahkan dengan baik
3,5    Bagus, hanya saja kurang kuat
4       Bagus, worth watching
5       Saya KATARSIS!!!! This is a true masterpiece!

Senin, 20 Mei 2013

The Jose Movie Review
Hummingbird

Pin It!


Overview

Setiap generasi punya aktor action hero yang menonjol dan nama Jason Statham adalah icon action hero pada era 2000-an. Ia sudah punya basis fans sendiri sehingga film-film yang ia bintangi meski hanya mengandalkan aksi laga tanpa landasan cerita yang kuat atau malah cenderung klise, setidaknya masih ada penonton yang setia menyaksikannya. Pernah sih ia membintangi film-film laga berbobot di era 90-an seperti Lock, Stock, and Two Smoking Barrels dan Snatch. (keduanya karya Guy Ritchie), tetapi bukan sebagai pemeran utama. Image-nya sudah melekat pada franchise-franchise macam Transporter, Crank, The Expendables, dan terbaru ia pun bergabung di gang Fast and Furious (6-7). Dari deretan filmografinya, film terakhir yang impresif bagi saya adalah The Mechanic (2011) garapan Simon West dimana ia beradu akting dengan Ben Foster.

Hummingbird atau di US menggunakan judul yang lebih “pasaran” namun lebih menjelaskan inti filmnya, Redemption, merupakan karya debut penyutradaraan bagi penulis naskah Steven Knight (nominee Academy Award 2004 untuk Dirty Pretty Things) yang juga pernah angkat nama lewat Eastern Promises). Masih menyorot kehidupan remang-remang underground dan kelas bawah kota besar, kali ini ia memasukkan unsur “religius” dalam menyampaikan kisahnya.

Mungkin terdengar terlalu mengada-ada namun demikianlah kenyataannya. Tak hanya menghadirkan karakter biarawati sebagai bagian penting dari cerita, premise redemption-nya benar-benar dibidik secara “religius”. Tenang saja, jangan bayangkan unsur “religi” seperti yang ada di film/sinetron kita yang serba pure black-pure white dengan template yang itu-itu saja. Karakter utama Joey, mantan tentara Afghanistan yang kini buron, digambarkan tidak melulu hitam. Bahkan karakter Cristina, seorang biarawati juga digambarkan tidak sepenuhnya putih. Ada pergulatan kepribadian masing-masing yang membawa mereka ke satu titik temu sekaligus titik balik kehidupan keduanya. Bukan hal baru sebenarnya, tetapi berkat konsistensi fokus cerita dan perkembangan cerita yang terjaga baik, somehow tetap membuat saya tertarik untuk menyaksikannya hingga akhir film.

Steven Knight tak hanya menuliskan naskahnya dengan detail karakter serta perkembangan yang natural dan manusiawi, terutama Joey dan Cristina. Nyatanya, di bawah arahannya, Hummingbird tampil elegan, khas crime drama thriller Eropa. Berbeda dengan film-film tipikal Statham biasanya, Hummingbird memang lebih banyak menghadirkan drama dengan menonjolkan character development ketimbang adegan aksi gila-gilaan. Namun bukan berarti ia tak punya cukup adegan aksi untuk dinikmati. Dengan didominasi perkelahian tangan kosong dan perkakas seadanya, tanpa senjata api ataupun bahan peledak, porsi adegan aksi yang ada menurut saya pas, sesuai dengan kebutuhan cerita. Nyaris brutal dan cukup membuat gregetan penonton di beberapa bagian.

So, penggemar Statham agaknya harus mengubah ekspektasinya ketika menyaksikan Hummingbird (mengubah, bukan menurunkan). Adalah sebuah kemajuan bagi seorang Statham untuk bermain di film dengan cerita serius, tidak hanya mengandalkan kemampuan fisiknya. Toh, cerita yang diusung Hummingbird sangat memuaskan untuk disaksikan, dipikirkan, bahkan direnungkan.

The Casts

Meski tidak juga terlalu istimewa, Statham memainkan dan menunjukkan perkembangan karakter Joey dengan sangat baik. Begitu pula Agatha Buzek (Cristina) yang mampu mengimbangi bahkan tampil lebih menonjol berkat karakternya yang memang lebih menarik untuk disimak.

Technical

Kekuatan teknis yang paling terasa adalah sinematografi Chris Menges yang pernah bekerja bersama Knight di Dirty Pretty Things. Jalan-jalan kecil London yang remang-remang namun dihiasi lampu neon warna-warni indah, apartemen mewah, bahkan biara tempat Cristina bernaung terekam dengan sangat indah dan berkelas.

Tak ketinggalan score dari composer kelas Oscar, Dario Marianelli (Atonement dan Anna Karenina) yang sukses membawa penonton ke dunia Joey yang keras. Menyentuh di beberapa bagian namun tak sampai terbuai menjadi tear-jerker yang terlalu dalam.

The Essence

Ah saya sudah tahu dan percaya Tuhan selalu punya cara yang misterius untuk mengubah hidup seseorang. I’ve been there dan kisah-kisahnya selalu menarik perhatian saya asalkan tidak digambarkan serba hitam-putih dan naif.

They who will enjoy this the most

  • Statham’s true fans who will still love him just the way he is, not just because what he used to be in previous movies
  • Penyuka film action-drama yang thoughtful, tak hanya menjual adegan-adegan aksi spektakuler semata
  • Penyuka film character-driven
Lihat data film ini di IMDb

The Jose Movie Review
Star Trek Into Darkness

Pin It!


Overview

Saya bukan berasal dari generasi di mana era keemasan Star Trek (ST) berpuncak. Nevertheless, ketika kecil saya masih mengenali versi serial TV-nya (The Next Generation) dengan karakter-karakter uniknya seperti Data, Worf, dan Geordi La Forge. Tetapi sampai di situ saja impresi saya tentang ST dulu, secara dari segi cerita dan desain universe saya lebih “klik” dengan franchise Star Wars yang kebetulan dirilis ulang bertepatan dengan generasi saya.

Kemudian muncul J. J. Abrams, penulis sekaligus sutradara yang angkat nama sejak booming serial Alias dan Lost. Reputasinya di layar lebar pun ternyata sangat impresif. Tak heran satu per satu proyek ambisius melamar dirinya. Reboot Star Trek di 2009 mampu menjadi penyegaran dari franchise klasik yang sempat sudah pada titik terendahnya. Seorang Steven Spielberg pun memberi kepercayaan menggarap Super 8, drama sci-fi sejenis Close Encounters of the Third Kind yang lagi-lagi meraih banyak pujian dari kritikus maupun penonton. Setelah Star Trek Into Darkness (STID) ini, ia akhirnya dilamar untuk menggarap trilogi ketiga dari mega franchise Star Wars. Berakhirlah sudah seteru antara fanboy keduanya dengan momentum berbagi sutradara ini. Alam semesta kembali berdamai. Jadi bagaimana sepak terjang Abrams di sekuel reboot salah satu yang paling ditunggu-tunggu die hard fansnya di seluruh dunia?

All I can say is, he’s succeeded leaping his own previous achievement. Jika reboot ST (2009) seolah “hanya” pengenalan universe Star Trek ala Abrams, maka STID adalah hasil dari segala grand concept dari seorang Abrams untuk franchise ini. This is the true ST he always want to show us : aspek sci-fi sebagai konsep utama namun diseimbangkan dengan sisi hiburan yang masih terasa. Dan tampaknya memuaskan para Trekkies sekaligus fans generasi baru yang menjadi salah satu alasan utama kenapa franchise besar perlu sebuah reboot setiap jangka waktu tertentu. Franchise yang bagus harus selalu dilestarikan lintas generasi bukan?

Boleh saja sub-judulnya Into Darkness tapi ternyata ia sama sekali tak berusaha menjadi kelam seperti trend blockbuster Hollywood akhir-akhir ini. Ia masih mengusung keseruan dan fun yang sama dengan pendahulunya. Bahkan menurut saya jauh lebih segar dan menyenangkan ketimbang bagian pertamanya. Ringan, mudah dipahami, namun tidak kacangan. Jalinan kisah daur ulang, termasuk ditampilkannya Kahn sebagai villain (namun dengan tampilan dan latar belakang karakter yang jauh berbeda dari Star Trek – The Wrath of Kahn) berhasil ditampilkan secara segar tanpa terasa jatuh menjadi semacam opera sabun. Sementara kekuatan utama tetap berada pada jalinan hubungan antar karakter dan perkembangan masing-masing. Ada cukup banyak karakter yang ditampilkan namun somehow masing-masing terasa pada porsi yang pas dan adil. Satu hal yang sulit dilakukan dan jarang ditemukan pada medium film terutama akhir-akhir ini, dimana cenderung saling tumpang tindih atau ada karakter yang terasa hanya sebagai pemanis layar.

Dari segi sci-fi, STID menghadirkan universe yang seimbang dan sesuai fungsinya sehingga tidak merebut perhatian penonton sepanjang durasi. It looked cool, real, but not distracting the main focus, its story.

Terakhir, action yang tentu saja menjadi perhatian utama penonton. Jelas sudah terbukti kepiawaian Abrams dalam menggarap adegan-adegan aksi seru, menegangkan, dan bisa dinikmati. Jadi jika Anda (dan juga saya) berpikir film-film aksi era 2000-an hanya mengandalkan efek visual gila-gilaan semata tanpa sense of action excitement, bersyukur masih ada Abrams yang punya bakat luar biasa di bidang ini. Mr. Bay dan Mr. Emmerich, please get off the screen!

The Casts

Chemistry bromance yang ditunjukkan Chris Pine (Kirk) dan Zachary Quinto (Spock) tetap menjadi highlight yang menarik dan menonjol sepanjang film. Spotlight berikutnya patut diarahkan pada Benedict Cumberbatch yang berhasil mensejajarkan dirinya dengan deretan villain kharismatik lainnya dengan gestur dan  suara yang mengintimidasi. Tambahan screen’s sweetheart, Alice Eve (Carol) tak hanya mempercantik layar namun memberikan kesegaran baru pada franchise.

Sementara tampilan beberapa kru yang sudah ada sejak seri sebelumnya, seperti Zoe Saldana, Anton Yelchin, John Cho, Karl Urban, dan Simon Pegg masih mengisi peran dengan keunikan masing-masing dan tetap menjadikan suasana di dalam USS Enterprise “hidup”.

Technical

Sebuah sci-fi dengan grand design concept semumpuni ST-nya J. J. Abrams tentu tak perlu diragukan lagi. Semuanya tertata rapi dan keren. Mulai dari set lokasi seperti keadaan di bumi masa depan, di dalam pesawat USS Enterprise, desain kostum (terutama seragam) yang keren tanpa menghilangkan unsur khasnya, hingga visual effect mencengangkan di tiap frame-nya.

Sinematografi cantik dari Daniel Mindel, lengkap dengan efek flare di mana-mana yang telah menjadi signature Abrams. Efek 3D yang meski hasil convert, bukan shot in 3D, ternyata mampu memuaskan, terutama adegan pembuka yang breathtaking. Adegan-adegan selanjutnya meski tak begitu menonjol dan minim efek pop-out, namun cukup mampu membawa penonton seolah-olah menjadi bagian dari awak USS Enterprise.

Score gubahan Michael Giacchino menggiring penonton ke nuansa grande dari franchise semegah ST. Mungkin tidak begitu hummable di telinga saya, tetapi setidaknya terdengar sangat megah untuk ukuran film yang memang disiapkan untuk menjadi blockbuster.

The Essence

Aneka karakter yang berbeda-beda di dalam awak USS Enterprise mengingatkan kita sekali lagi untuk mempergunakannya sebagai saling pengisi dan dukung. Contoh yang paling mudah perbedaan Spock yang rasional dan matematis dengan Kirk yang sering mengandalkan insting.

They who will enjoy this the most

-          Trekkies
-          General blockbuster audiences

Lihat data film ini di IMDb.

Kamis, 09 Mei 2013

The Jose Movie Review
Evil Dead (2013)

Pin It!


Overview

The Evil Dead (ED - 1981) karya Sam Raimi (iya, sutradara Spider-Man versi Tobey Maguire itu) dianggap sebagai sebuah cult masterpiece dalam scene horor yang mengeksploitasi gore serta unsur-unsur klasik lainnya seperti kabin di hutan, mantra pembangkit setan, dan kerasukan. Suksesnya berbuntut pada pembuatan sekuel, Evil Dead 2 (1989) dan Army of Darkness (1992), diikuti sekuel-sekuel berikutnya di ranah video game. Di tengah tren remake horor klasik, tinggal menunggu waktu saja bagi ED untuk diperbaharui dengan teknologi yang lebih modern ketimbang versi aslinya.

Keterlibatan Raimi sebagai produser di sini menjadi semacam jaminan bahwa remake ED tidak akan mengecewakan fans setia versi aslinya. Ditunjuklah sutradara film pendek asal Uruguay, Fede Alvarez yang sekaligus menuliskan naskah versi barunya ini bersama dengan Rodo Sayagues.

Jika Anda fans atau sekedar pernah menyaksikan versi aslinya, sulit untuk tidak membanding-bandingkan keduanya, setidaknya susunan template adegan-adegannya. Well in the end, saya menyimpulkan bahwa masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Ini tidak hanya sebuah remake, namun juga bisa menjadi semacam sekuel tidak langsung dari versi aslinya. Terserah masing-masing penonton.

ED2013 tidak mentah-mentah copy-paste versi 1981. Yang ia ambil hanya cerita dasarny, beberapa unsur remarkable, serta yang wajib adalah nyawa horornya. Ia menambahkan sub-plot hubungan kakak-adik yang lebih solid ketimbang versi 1981 yang terkesan hanya pelengkap. I know we don’t watch this kind of movie for the story, but for the gorefest and the thrill. Tetapi tidakkah merupakan sebuah elemen positif dan rasional yang ditambahkan untuk mendukung film.

Untuk horror dan thrill-nya sendiri sebenarnya saya merasakan sedikit di bawah  versi 1981. Dengan kacamata horor modern sekalipun, versi 2013 thrill-nya terasa kurang gripping dan seolah seperti terburu-buru mematikan karakter demi karakternya sebelum mengeksploitasi ketegangan yang mampu diciptakan secara maksimal, terutama di bagian pertengahan film. Bandingkan dengan versi 1981 yang dengan asyiknya “menahan” ketegangan sebelum benar-benar mematikan karakter demi karakter. Sedikit humor absurd dan creepy yang diselipkan di tengah-tengah versi 1981 juga banyak dikurangi. Masih penuh darah, penuh shocker, namun sudah sangat formulaic di banyak horor sejenis sehingga terkesan biasa.

Saya yang masih mengingat susunan template adegan versi asli sampai pada titik tersebut sudah terlanjur kecewa. Namun rupanya ia tidak mematuhi template aslinya dan menambahkan bagian terbaiknya di akhir film. This is the real thriller and the best part of all, even from the original version! Akhirnya versi ED2013 berhasil membayar lunas semua kekecewaan saya di awal hingga pertengahan film, termasuk dengan adegan yang seolah sebuah tribute untuk The Raid karya Gareth Evans. Akhirnya ada bagian yang membuat saya teriak kegirangan.

So in the end, dengan berbagai kreativitas di sana-sini untuk menghiasi film dengan tetap menghormati dan menjaga ketat nyawa serta beberapa elemen orisinalnya, ED2013 bisa dikatakan sebuah remake yang berhasil memuaskan fans setianya sekaligus menjaring fans baru dimana sudah pasti Sam Raimi dan krunya  berencana untuk melanjutkan franchise yang jelas-jelas potensial menjadi tambang uang ini.

Oh yes, jangan buru-buru keluar dari studio untuk mendapatkan informasi penting tentang sejarah Book of the Dead bagi yang belum pernah nonton versi aslinya. Untuk fans versi 1981, ada kejutan tambahan di after credit.

The Casts

Saya rasa ia tak butuh aktor-aktor ternama dengan kemampuan akting mumpuni untuk menghiasi layar. Tetapi Shiloh Hernandez (Red Riding Hood) harus diakui mirip atau setidaknya mengingatkan dengan sosok Ash di versi aslinya. Begitu pula Jane Levy yang memerankan Mia dan Randal Wilson, pemeran Mia ketika kerasukan. Tak kalah menyeramkan dan mengerikan ketimbang Betsy Baker (pemeran Cheryl di versi aslinya).

Sekedar fakta unik, jika Anda mengambil huruf depan dari karakter-karakter utama kita; David, Eric, Mia, Olivia, dan Natalie, maka Anda akan menemukan kata…

Technical

Kesetiaannya untuk sebisa mungkin tak mengandalkan CGI dalam menghadirkan horor dan gore patut diacungi jempol. Dengan hanya meggunakan prostetik, gore yang ditampilkan terasa lebih nyata dan hidup. Aspek itulah yang menambah suasana ngeri di hampir sepanjang durasi.

Divisi sound effect juga patut diberi kredit lebih dalam menghidupkan berbagai adegan. Timing silent yang tetap efektif memberi efek kejut meski penonton sudah bisa menebaknya, serta keseimbangan bass-treble yang mantap terjaga. Experience yang jarang bisa dirasakan di film-film horor modern.

The Essence

“You’re all going to die tonight!”

They who will enjoy this the most

  •  Gore-horror enthusiast
  •  The original Evil Dead fans
Lihat data film ini di IMDb.

The Jose Movie Review
Kisah 3 Titik

Pin It!


Overview

Lola Amaria dikenal sebagai sosok film yang concern dengan problematika sosial di negeri ini. Setelah sebelumnya mengangkat cerita TKW Indonesia di Hongkong lewat Minggu Pagi di Victoria Park dan LGBT di Sanubari Jakarta, kini bekerja sama dengan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, Lola mengangkat tema perburuhan di dalam negeri, nyaris bertepatan dengan Hari Buruh.

Bicara mengenai perburuhan di Indonesia, mungkin kita sudah bosan dengan hiruk-pikuknya yang tak kunjung selesai. Apalagi setiap kali kita yang tinggal di kota dibuat sebal oleh kemacetan akibat demonstrasi buruh yang seolah-olah tak pernah puas menuntut. Tuntutan UMR yang mencapai 1.5 juta pun cukup mengernyitkan dahi karyawan-karyawan kantor yang dengan latar belakang pendidikan lebih tinggi namun gajinya tak beda jauh. Tentu ketimpangan terasa semakin tidak adil. Bahkan saya sampai pada anekdot, mungkin para buruh tidak akan pernah puas berdemo kalau belum memiliki gaji dan fasilitas setara direktur-direktur di atasnya. Well, tuntutan tinggal tuntutan jika kita tidak menganalis dampak ke depannya dari permasalahan ini yang mau tak mau akan selalu berputar-putar pada “lingkaran setan” yang sama.

Maka Kisah 3 Titik mencoba untuk mengangkat permasalahan perburuhan di tanah air ini dari berbagai sudut. Setidaknya ada tiga titik penting yang patut dilihat. Titik di sini bukanlah metafora semata karena sekaligus dijadikan nama karakter yang merepresentasi masing-masing pihak. Titik yang pertama adalah Titik Sulastri, seorang janda yang sedang berusaha mencari pekerjaan demi menghidupi anak serta calon anak yang akan lahir. Titik kedua Kartika (Titik Tomboy), seorang buruh garmen yang tergolong vokal menentang ketidakadilan dan kecurangan yang dilakukan perusahaannya, namun menjadi percuma karena tak punya kuasa apa-apa. Yang terakhir mungkin yang paling punya power atas nasib buruh namun masih kalah dari segi posisi, Titik Dewanti Sari.

Penceritaan tiga sisi yang saling berkaitan di sini menjadi sebuah premise yang menjanjikan. Setidaknya, menarik untuk disimak. Memang benar, penulis naskah Charmantha Adjie dan sutradara Bobby Prabowo bisa dikatakan berhasil merangkai kisah ketiganya menjadi satu kesatuan yang tak hanya menarik untuk diikuti (meski most of us mungkin sudah paham betul ke mana arahnya akan menuju), sekaligus tetap mampu membuat penonton berempati terhadap nasib karakter-karakter yang ada. Ia memang murni memaparkan tiap kisah secara faktual, mungkin sedikit mirip sebuah dokumenter dengan sentuhan art sinematik. Tak ada perkembangan karakter yang berarti, karena tiap karakter seperti para buruh yang sudah ditentukan nasibnya sejak awal, tinggal diikuti, dan semakin lama semakin memburuk. Tidak ada pula kesimpulan dan solusi yang ditawarkan, karena memang hingga kini belum ada solusi yang benar-benar bisa menyelesaikan permasalahan yang ada.

Namun justru di situlah kekuatan Kisah 3 Titik (K3T). Ia tak mau bersikap sok tahu atas langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini, yang justru rentan terjerumus pada ketidakrealistisan. Ia malah seolah mengajak penonton untuk mencerna permasalahan buruh dari berbagai sudut dan aspek serta berpikir bersama solusi apa yang bisa mengurangi permasalahan buruh. Syukur-syukur terselesaikan semua.

Untuk tujuan itu, K3T bisa dikatakan berhasil meski tidak juga menjadi karya yang begitu istimewa dan sangat mengesankan di balik berbagai aspeknya yang sudah tertata apik. Dengan embel-embel dukungan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia yang rentan menjadi karya pretensius dan penuh “pesanan” di sana-sini, setidaknya ia mampu memvisualisasikannya dengan sangat halus dan elegan.

The Casts

Lola Amaria serta dua aktris utama pemeran Titik lainnya, Ririn Ekawati dan Maryam Supraba berhasil mengundang simpati penonton berkat karakter yang cukup kuat dibawakan masing-masing. Ririn dengan nasib malangnya yang bertubi-tubi, Maryam dengan keberaniannya namun tetap saja kalah, serta Lola yang bisa mengubah namun tanpa kekuasaan yang cukup.

Di deretan pemeran pendukung juga tak kalah apiknya. Ada Donny Alamsyah, Gessata Stella, Ingrid Widjanarko, Ella Hamid (yang pernah mencuri layar di Minggu Pagi di Victoria Park dan segmen Ella di Belkibolang), dan Dimas Hary (masih ingat segmen Hari Ini Aku Cantik di Sanubari Jakarta?). Penampilan sekilas dari Edward Gunawan, Rangga Djoned, dan Lukman Sardi turut membuat film menjadi lebih berwarna.

Technical

Sinematografi cantik yang menghasilkan tone warna bumi, penghias dunia masing-masing karakter yang memiliki kesuraman tersendiri. Tidak ada yang begitu istimewa dari segi permainan angle namun cukup mampu bercerita dengan efektif.

Tak ada kendala pula pada sound yang tetap memanfaatkan efek surround. Score yang menghiasi juga tak terlalu istimewa namun cukup mampu mengiringi adegan-adegan dalam membangkitkan empati penonton.

The Essence

Perburuhan adalah permasalahan yang susah untuk ditemukan ujung pangkalnya. Dari berbagai sudut/pihak menyimpan permasalahan tersendiri. K3T mengajak penonton untuk berpikir tidak hanya dari sudut pandang buruh, namun juga pengusaha serta dampak-dampaknya dalam skala yang lebih besar.

They who will enjoy this the most

  • Siapapun yang concern dengan permasalahan sosial, terutama perburuhan.
Lihat data film ini di Film Indonesia.

Senin, 06 Mei 2013

The Jose Movie Review
Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta
(What They Don't Talk About When They Talk About Love)

Pin It!


Overview

Arthouse, sebuah istilah dalam dunia perfilman yang sering dianggap “kasta tertinggi”. Ibarat karya lukisan, arthouse adalah bentuk lukisan abstrak yang oleh orang awam dianggap tidak jelas, tidak menarik, namun bagi beberapa orang yang mampu “merasakannya” lukisan tersebut tak dapat diukur nilainya. Sama seperti film, arthouse sering kali dianggap karya tak jelas yang berat, memerlukan analisa visual yang otomatis pula mengandalkan intelektualitas tertentu, dan tentu saja memiliki cita rasa yang diperlukan dalam “merasakan” keindahannya. Di Hollywood kita mengenal nama seperti Terrence Malick yang sukses membuat penonton bingung (terutama yang belum mengenal kitab Wahyu dan Mazmur di Alkitab) dengan Tree of Life-nya. Di Indonesia sendiri di deretan sutradara senior ada nama Garin Nugroho. Sementara di generasi yang lebih muda sudah ada nama Edwin, sutradara asal Surabaya yang sempat menghebohkan lewat Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) dan terakhir yang meraih banyak pujian di mana-mana, Postcard from the Zoo (2012).

Lalu ada nama Mouly Surya, sutradara wanita (yang juga menuliskan sendiri naskah film-filmnya) yang angkat nama 2008 silam melalui Fiksi. Ditayangkan terbatas di jaringan Blitz, Fiksi berhasil menyabet banyak penghargaan, termasuk Film Cerita Bioskop Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, Penulis Skenario Terbaik, dan Penata Musik Terbaik di ajang Fetival Film Indonesia 2008. Sebuah prestasi yang tidak main-main dari seorang sineas wanita yang baru pertama kali menggarap film panjang. Sekedar tambahan, Mouly bahkan belum pernah menulis naskah maupun menyutradarai film pendek apapun sebelumnya. So, Fiksi was practically her very first work.

Tahun 2012, Mouly kembali menggarap film panjang yang juga ditulisnya sendiri, Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta atau yang lebih dikenal dengan judul internasional berkat prestasinya di International Film Festival Rotterdam dan tentu saja Sundance Film Festival, What They Don’t Talk About When They Talk About Love (sering disingkat menjadi Don’t Talk Love). Dari dua karyanya ini bisa kita lihat kapabilitas Mouly sebagai penulis naskah dan sutradara yang tidak monoton, baik dari segi genre dan gaya penceritaan, meski masih memiliki ciri-ciri khas yang mudah dikenali.

Secara genre, jelas Don’t Talk Love yang merupakan drama romantis berbeda jauh dengan Fiksi yang drama thriller psikologis. Jika Fiksi memiliki alur naratif cerita biasa, maka Don’t Talk Love lebih eksperimental.That's why many people categorized it as an arthouse. Ia kali ini mengajak penonton mengintip kehidupan sehari-hari para difabel (different ability people) yang tinggal dan bersekolah di sebuah SLB; bagaimana mereka menghabiskan waktu di asrama, bagaimana interaksi sosial mereka sehari-hari, bagaimana mereka memandang hidup, apa cita-cita mereka, bagaimana mereka memandang hidup seandainya menjadi manusia-manusia normal seperti lainnya, dan tentu saja sesuai judulnya, bagaimana pandangan dan cara mereka menyikapi cinta.

Sekedar saran, Anda tak perlu berpikir keras sepanjang durasi untuk mencerna apa maksud dari tiap adegan. Don’t Talk Love bukan tipe arthouse seperti itu. Anda hanya perlu sabar memperhatikan tiap adegan dan merasakannya. Mouly dengan cerdas dan menarik, mengajak penonton mengamati tiap aspek kehidupan mereka (para difabel) dan larut dalam kehidupan mereka, seolah penonton adalah salah satu karakter di dalamnya. Dengan caranya yang unik pula, penonton dibuat seolah lupa bahwa karakter-karakter yang ada sebenarnya memiliki “perbedaan” fisik (tuna netra dan tuna wicara), atau sebaliknya, penonton lupa dengan dirinya sendiri dan menjadi terbiasa memandang hidup ala kaum difabel. Tak sedikit pun ia mengeksploitasi “perbedaan” mereka untuk menyentuh penonton. Tidak, ini bukan film tearjerker. Ketika film berakhir, barulah renungkan pengalaman-pengalaman yang disodorkan Mouly. Luar biasa!

Don’t Talk Love jelas sebuah tontonan unik dan menarik di tengah genre serta gaya penceritaan film yang begitu-begitu saja. Ia menawarkan pengalaman yang unik pula bagi para penontonnya yang mau membuka diri. Penonton mungkin merasakan biasa saja seusai menontonnya, namun adegan-adegannya yang “ajaib” mampu terus-menerus terngiang dalam ingatan penonton untuk jangka waktu yang cukup lama. That’s the magic of arthouse movie. Susah untuk menilai secara objektif atau sekedar saling membandingkan dengan film lain, karena ia menawarkan pengalaman dan tentu saja tiap pengalaman menghasilkan efek yang berbeda-beda bagi tiap individu yang mengalaminya. It’s very personal, sama seperti efek jatuh cinta yang berbeda-beda pada tiap orang.

The Casts

Trio Ayushita-Nicholas Saputra-Karina Salim jelas memberikan performa yang luar biasa yang akan selalu diingat penonton. Masing-masing memberikan penampilan signatural yang unik dan bisa jadi termasuk karakter-karakter paling penting di daftar filmografi masing-masing. Ayushita yang namanya melambung berkat grup BBB (Bukan Bintang Biasa) asuhan Melly Goeslaw terlihat paling menonjol, terutama berkat keberaniannya di beberapa adegan serta penghayatan karakter yang luar biasa. Begitu pula Nicholas Saputra yang selama ini saya anggap selalu menjadi diri sendiri di film-film sebelumnya, akhirnya mampu keluar dari peran tipikal dan tampil jauh berbeda. Terakhir, Karina Salim sebagai pendatang baru juga tak kalah memberikan performa luar biasa dalam adegan-adegan yang tak terlupakan.

Technical

Kekuatan penceritaan ala Mouly diperkuat oleh permainan sinematografi Yunus Pasolang yang tak kalah uniknya. Angle-angle menarik dan kadang tak biasa berhasil menangkap tiap sudut kehidupan di asrama SLB dengan indah, apalagi dalam frame beraspek rasio 2.35:1 yang terasa sekali efek teatrikal-nya.

Score piano minimalis seperti yang pernah diusung Mouly di Fiksi sekali lagi membangun suasana misterius dan rasa penasaran penonton dengan sempurna. Ditambah pemilihan lagu Burung Camar dan Nurlela yang pada akhirnya begitu melekat begitu kuat dalam ingatan penonton sebagai landmark Don’t Talk Love. Efek surround beberapa kali juga dimanfaatkan dengan sangat baik. Salah satu koloborasi kekuatan visual dan audio yang berhasil membawa penonton seolah-olah berada dalam adegan.

The Essence

Love is simple and universal. Memandang cinta dan hidup dari berbagai sudut pandang membuatnya ternyata terlihat sama dan justru semakin menghargainya sebagai anugerah, dalam kondisi apapun.

They who will enjoy this the most

-          Arthouse enthusiast
-          Penonton umum yang mau membuka diri terhadap jenis film apapun

Lihat data film ini di IMDb.
Lihat situs resmi film ini.

Kamis, 25 April 2013

The Jose Movie Review
9 Summers 10 Autumns

Pin It!


 
Overview

Motivasi. Entah bagaimana mulanya kata itu bisa menjadi komoditas di negeri ini. Bisa jadi keadaan perekonomian kita yang tidak terlalu beranjak jauh beberapa tahun terakhir membuat masyarakat merasa perlu merubah pola pikir dan strategi demi kehidupan yang lebih baik. Sebenarnya motivasi memiliki arti yang luas dan teraplikasikan pada bidang apa saja. Namun yang paling menonjol saat ini adalah motivasi pengembangan diri yang ujung-ujungnya ke arah “kesuksesan secara finansial”. Tidak perlulah saya menyebut nama-nama motivator di negeri ini, nanti satu per satu berniat difilmkan pula. Yang mana tidak begitu perlu juga jika pada dasarnya tidak ada yang berbeda. Well, money talks. Selama setiap buku motivasi yang pada prinsipnya kurang lebih sama selalu menjadi best seller, kesempatan untuk diangkat ke layar lebar semakin besar pula. Tahun lalu kita punya Negeri 5 Menara (N5M) dan 5cm. yang meski secara penghasilan bisa dikatakan berhasil, juga “dipuji karena menginspirasi” bagi mayoritas penonton kita, namun tidak begitu saya sukai. N5M terlalu flat dan “mentah” dalam mengadaptasi buku motivasi ke bentuk film cerita. Ia seperti tak punya konflik yang berarti, hanya pesan-pesan yang terlalu pretensius. Sedangkan 5cm. menginspirasi dengan caranya yang tidak logis dan ajaib (baca: dadakan). Keduanya gagal “menginspirasi” saya.
Lantas tahun ini muncullah 9 Summers 10 Autumns (9S10A) yang juga diangkat dari novel motivasi atau cenderung ke arah biografi dari Iwan Setyawan, seorang anak sopir angkot di Kota Batu yang sukses menjadi consultant di New York. Ketika bukunya dirilis yang paling menarik perhatian saya adalah konsep “dari Kota Apel yang menaklukkan Big Apple” yang tak hanya sekedar analogi kebetulan namun berdasarkan fakta yang ada. Ketika filmnya hendak diangkat, saya tidak memiliki ekspektasi muluk-muluk untuknya karena anggapan sekilas bahwa ini akan menjadi just-another-N5M.
Rupanya saya meremehkan nama Ifa Isfansyah selaku sutradara dan Fajar Nugroho selaku penata skrip yang berhasil menghidupkan kisah 9S10A dengan sangat baik, indah, dekat dengan mayoritas masyarakat kita, dan dengan pendekatan penceritaan yang unik dan menarik. Secara garis besar, kita diajak mengikuti jejak Iwan Setyawan ketika telah menjejakkan kaki di New York. Sebuah refleksi diri terjadi pada dirinya yang membawa kita flashback ke masa kecil hingga kesuksesannya itu. Sebuah biografi bergulirlah.
Idealnya sebuah film memiliki satu saja  fokus cerita untuk disampaikan. Dengan durasi yang tergolong singkat, fokus cerita yang bercabang ke mana-mana terancam (dan memang seringkali demikian) merusak kenikmatan keselurahan film. Tentu saja maksud yang ingin disampaikan pun menjadi tidak mengena dan bias. 9S10A memilih untuk murni mengangkat sebuah biografi seorang Iwan Setyawan. Sama seperti sebuah kehidupan, ia memiliki berbagai aspek. Berpotensi untuk kehilangan fokus, namun ternyata skrip mampu membagi porsi masing-masing yang diletakkan bergantian, tidak tumpang-tindih, dan tetap memiliki konsistensi satu fokus dengan porsi paling besar yang mempengaruhi keseluruhan cerita, yakni berkaitan dengan karakteristik tokoh utama.
Anda tidak akan menemukan titik klimaks dari kisah hidup Iwan Setyawan meski konflik yang terjadi telah dimulai sejak awal film. Konflik karakteristik tokoh utama yang berseberangan dengan sang ayah (dan juga mayoritas masyarakat kita dengan budaya patriarki-nya yang aneh) diperlihatkan dalam berbagai adegan. Namun bukan berarti 9S10A jatuh menjadi film yang begitu membosankan. Ifa dan Fajar pandai merangkai tiap adegan menjadi sumber informasi tentang kepribadian Iwan. Apalagi kejadian-kejadian kecil (terutama potensi spin-off film biografi diva terkenal Indonesia itu :D) dan beberapa karakter yang sukses menjadi penghibur di berbagai kesempatan dengan kadar yang pas.
Sayang, 9S10A mengakhiri cerita dengan biasa saja. Seharusnya resolusi hubungan antara ayah-anak bisa terjalin dengan lebih hangat daripada yang tersaji di layar dimana terasa sekali kurang dalam tergali. Padahal itu menjadi fokus utama cerita. Belum lagi slogan seorang Iwan Setyawan yang berulang kali diucapkan menjelang akhir film. Menurut saya pribadi, cukup sekali diucapkan ketika di New York dimana menyatu sekali dengan dialog.
Anyway, overall 9S10A jauh lebih baik dari ekspektasi dan bayangan saya sebelum menyaksikannya. Sebuah adaptasi yang mampu bertransformasi menjadi film digarap detail di setiap aspeknya dan dengan pendekatan yang unik.

The Casts

Sebagai pengisi karakter utama, Ihsan Tarore (iya... Ihsan Idol itu) masih sering terasa kaku meski memiliki gesture yang (katanya sih) mirip Iwan Setyawan asli. Bahkan pemeran karakter Iwan kecil, Shafil Hamdi Nawara tampil jauh lebih baik. Lihat saja titik paling flat dan terasa seperti menghafal dialog pementasan drama Bahasa Inggris di sekolah : ketika Iwan berdialog dengan gadis bule bernama Sharon yang tak kalah kakunya.
Untung saja jajaran cast yang lain tampil sangat luar biasa, terutama Dewi Irawan (yang tidak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya) dan Alex Komang. Di lini pemeran pendukung, penampilan Epy Kusnandar, Ria Irawan, dan Kayana Ayunda Dianti sebagai Rini kecil, berhasil mencuri layar meski porsinya sangat minim.
Tak ketinggalan kehadiran Dira Sugandi (iya, biduwan jazz itu) dan Agni Pratistha yang menarik bagi yang mengenalinya.

Technical

9S10A digarap dengan teknis yang sangat mumpuni di berbagai aspeknya. Mari kita mulai dari yang paling menonjol dan paling layak diapresiasi : detail art dan properti yang luar biasa. Kota Batu seolah disulap kembali ke tahun silam (70-90an) lengkap dengan adegan bioskop misbar (gerimis-bubar, semacam bioskop drive-in) Kelud yang susah dilupakan, terutama bagi moviegoers yang merindukan bioskop vintage). Begitu juga dengan New York awal 2000-an yang ditandai dengan berbagai poster film di stasiun kereta api bawah tanah dan billboard-billboard film di Madison Square Garden yang sesuai dengan tahunnya.
Dandanan dan kostum juga tak luput diperhatikan detailnya. Tata rambut 90-an ala Sahrul Gunawan di Jin dan Jun dan kostum ala Catatan Si Boy. Detail sekali!
Untuk tata kamera dan tone warna tak perlu diragukan lagi. Setiap momen ter-capture dengan sangat indah, mulai Kota Batu, Bogor, Jakarta, hingga New York. Score-nya menarik dan tidak monoton, menyatu dengan tiap adegan dengan pas. Divisi sound pun tak mengalami kendala sama sekali, tergarap dengan rapi dan baik. Dialog yang terdengar jelas, sound effect yang sesekali memanfaatkan fasilitas surround dengan baik.

The Essence

Di atas kertas 9S10A memang mengedepankan dukungan keluarga dalam kesuksesan seseorang. Banyak adegan memang menunjukkan hal tersebut. Namun hubungan antara ayah-anak dengan latar budaya patriarki ala masyarakat Indonesia yang unik menjadi hal yang menarik dan nampaknya memang dijadikan highlight oleh Ifa dan Fajar. Banyak sekali adegan dan unsur-unsur yang menyuarakan aspek tersebut.
Figur ayah yang menginginkan anaknya menjadi seorang laki-laki yang serba “cowok” di matanya : berani berkelahi, bermain sepak bola, memperbaiki mesin, adalah sebuah potret keluarga yang terjadi pada mayoritas masyarakat kita. Karakter Iwan yang cenderung sebaliknya seolah mempertanyakan figur anak laki-laki yang bagaimana yang diinginkan oleh seorang ayah. Apa makna menjadi “laki-laki” yang sebenarnya. Sebuah highlight yang masih jarang diangkat di sinema kita dan ini menarik. Tak sampai mendobrak budaya patriarki, cukup mempertanyakannya, sama seperti film-film Ifa lainnya yang lebih banyak bertanya kepada penonton daripada memberikan jawaban.

They who will enjoy this the most

General audiences, terutama orang tua dan anak-anaknya.
 Lihat data film ini di Film Indonesia

FaceJo TwitJo Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates