Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Opens Lebaran 2017.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Purnomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Opens Lebaran 2017.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Opens Lebaran 2017.

Mantan

Gandhi Fernando to find his soul mate out of five fabulous exes.
Read more.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Opens June 21st.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 25, 2017

The Jose Flash Review
Tubelight
[ट्यूब लाइट]

Tak hanya di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momen yang tepat untuk merilis film line-up utama di India. Dua tahun terakhir ini Salman Khan lah yang seolah menjadi jawara di Hari Raya, dengan Bajrangi Bhaijaan (2015) dan Sultan (2016). Tak mau melepaskan predikat jawara Hari Raya, tahun ini Salman sudah mempersiapkan hits terbarunya, Tubelight, yang diadaptasi dari film reliji Katolik asal Hollywood, Little Boy (2015). Popularitas Little Boy yang sangat kurang terdengar, bahkan di kalangan penonton film reliji Katolik sekalipun, menjadi keuntungan tersendiri bagi Tubelight. Kabir Khan kembali digandeng sebagai sutradara sekaligus penulis naskah (dibantu Parveez Sheikh dan Manurishi Chadha) setelah Bajrangi Bhaijaan. Di lini cast, didukung pula oleh Sohail Khan cukup lama absen berakting (Hello Brother, Fight Club: Members Only, dan Veer), Om Puri yang mana ini merupakan penampilan terakhirnya sebelum meninggal dunia pada awal tahun 2017 lalu, dan aktris Mandarin, Zhu Zhu, yang sebelumnya pernah kita lihat di What Women Want (versi Andy Lau), Cloud Atlas, dan The Man with the Iron Fist. Musik dari Pritam dan Amitabh Bhattacharya tentu menjadi daya tarik lain yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 17, 2017

The Jose Flash Review
Planetarium

Jika kita selama ini sudah muak dengan film horror ber-treatment ala dokumenter pemanggilan arwah atau penampakan makhluk halus, pernah kah terbersit pertanyaan, sejak kapan ide memfilmkan peristiwa paranormal dimulai? Planetarium, sebuah film Perancis besutan sutradara wanita, Rebecca Zlotowski (Grand Central, Belle épine, You and the Night) mencoba untuk mengangkat kisah fiktif di balik fenomena yang masih terus berlangsung hingga kini. Meski berstatus film Perancis, Planetarium dibintangi Natalie Portman, Lily-Rose Depp (putri Johnny Depp dan  Vanessa Paradis), aktor watak sekaligus penulis naskah, Emmanuel Salinger, Pierre Salvadori, dan aktris Inggris, Amira Casar. Diputar pertama kali di Venice Film Festival, Planetarium menyambangi bioskop-bioskop non-XXI seluruh Indonesia. Tentu ini merupakan kesempatan yang sayang untuk dilewatkan bagi penggemar sinema Perancis, sinema Eropa klasik, maupun arthouse. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
47 Meters Down

Kehadiran The Shallows tahun 2016 lalu membuktikan bahwa sub-genre creature, terutama hiu, masih punya ‘taring’. Belum lagi ditambah film TV Sharknando yang bahkan sudah sampai installment kelima. Maka keputusan Byron Allen’s Entertainment Studios membeli hak tayang wide-release film bertajuk In the Deep di bioskop seluruh dunia dari Dimension Films (milik Weinstein Co.) yang awalnya hanya akan merilis untuk Home Video dan Video on Demand lewat Anchor Bay Entertainment saja, tergolong berani tapi tepat. Film indie produksi Inggris yang ‘hanya’ ber-budget US$ 5 juta ini justru sengaja diposisikan sebagai summer movie dengan judul 47 Meters Down (47MD), bersaing langsung dengan Wonder Woman, The Mummy, dan Cars 3. Siapa sangka film yang awalnya bahkan tak dilirik ini berhasil mengumpulkan US$ 11.2 juta untuk pasar domestik Amerika Serikat di minggu pertama penayangannya. Apa sebenarnya yang menarik dari 47MD sehingga membuat distributor berani membeli dan merilisnya di musim persaingan film-film Hollywood paling ketat? Disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Johannes Roberts, dibantu Ernest Riera (keduanya berkolaborasi untuk The Other Side of the Door), 47MD juga menandai kembalinya aktris-penyanyi, Mandy Moore di layar lebar setelah tahun-tahun sebelumnya ‘hanya’ menyambangi layar TV, bersama aktris serial Pretty Little Liars dan The Vampire Diaries, Claire Holt.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 16, 2017

The Jose Flash Review
In This Corner of the World
[この世界の片隅に]


Berbeda dengan kebanyakan animasi dari negara-negara lain, anime Jepang seringkali tak segan-segan mengangkat tema-tema berat, kelam, dan dewasa. Tak terkecuali menyangkut Perang Dunia II. Studio animasi sekelas Ghibli pernah mengangkatnya lewat Hotaru no haka atau judul internasionalnya, Grave of the Fireflies (1988). Pada tema dan pendekatan yang tak berbeda jauh, MAPPA mengadaptasi manga berjudul Kono Sekai no Katasumi ni atau judul internasionalnya, In This Corner of the World (ITCotW) ke anime layar lebar. Disutradarai oleh Sunao Katabuchi (Upon The Planet, Princess Arete, Mai Mai Miracle), dengan budget ¥ 250 juta (sekitar US$ 2.2 juta) berhasil mengumpulkan ¥ 2.5 milyar (sekitar US$ 22.5 juta) hingga Maret 2017 lalu. Belum lagi berbagai penghargaan film nasional maupun internasional yang berhasil diraihnya. Penggemar anime di Indonesia boleh lega karena tayang resmi di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia oleh distributor Moxienotion.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, June 15, 2017

The Jose Flash Review
Raabta
[राब्ता]

Film yang berani memasukkan elemen reinkarnasi selama ini masih tergolong sangat jarang. Bisa jadi alasannya adalah reinkarnasi bukan merupakan sesuatu yang bisa dibuktikan secara ilmiah dan tak semua kepercayaan yang menganutnya. Namun bukan berarti tak ada film bertemakan reinkarnasi yang berhasil menjadi sesuatu yang mengesankan, apalagi di genre drama romance yang sejatinya unsur reinkarnasi justru bisa jadi sesuatu yang manis. Sebut saja yang paling populer dan klasik, Bram Stoker’s Dracula, Chances Are, Dead Again, Birth, dan bahkan sinema Hindi pun punya Om Shanti Om. Melengkapi tema unrequited love yang seolah sedang menjadi trend film Hindi beberapa tahun terakhir, Dinesh Vijan (produser Love Aaj Kaal, Cocktail, Finding Fanny, dan Badlapur), mencoba debut penyutradaraannya dengan menggabungkan kembali tema reinkarnasi ke dalam romance lewat Raabta yang artinya ‘connection’. Dari naskah yang disusun oleh Garima-Siddhart (keduanya pernah bekerja sama untuk naskah Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela dan Brothers), Raabta menghadirkan Sushant Singh Rajput yang karirnya makin melejit setelah tampil di Kai Po Che!, PK, dan M.S. Dhoni: The Untold Story, dipasangkan dengan Kriti Sanon yang pernah kita lihat di Heropanti, Dohchay, dan Dilwale. Tak ketinggalan penampilan spesial dari Deepika Padukone yang membawakan title song-nya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, June 13, 2017

The Jose Flash Review
The Wall

Film panjang berkonsep satu karakter yang terjebak di satu tempat sepanjang film bukan lagi sesuatu baru meski kehadirannya bisa dikatakan masih sangat jarang. Yang paling memorable mungkin Phone Booth (2002), Saw (2004), Buried (2010), Devil (2010), dan baru-baru ini, Mine. Thriller dan horror menjadi genre yang pas untuk mengaplikasikan konsep ini, tapi tentu tidak menutup kemungkinan bisa dikombinasikan dengan genre lainnya. Mine membuktikan keberhasilan konsep ini untuk genre war. Maka The Wall arahan Doug Liman (Mr. & Mrs. Smith, The Bourne Identity) ini menawarkan konsep dan setting yang serupa dengan dukungan Aaron Taylor-Johnson (franchise Kick-Ass) dan atlet WWE yang sudah beberapa kali terjun di film laga, John Cena (The Marines). Dengan nama-nama yang dikenal berkualitas ditambah naskah yang termasuk dalam daftar Black List 2014 (daftar naskah-naskah yang paling disukai tapi belum diproduksi) karya Dwain Worrell (serial Marvel Iron Fist), proyek yang sejatinya tergolong indie ini (budgetnya ‘hanya’ US$ 3 juta!) terdengar begitu menarik dan menjanjikan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Zombie Fighters
[ក្រុមកម្ទេចខ្មោចឆៅ]

Sinema Thailand punya perpaduan genre yang sudah menjadi salah satu ciri khasnya, yaitu horror dan komedi. Perpaduan yang sebenarnya bertolak belakang ini jelas tak mudah dan beresiko terhadap resepsi penonton. Salah-salah bisa jatuh menjadi sajian konyol yang cenderung ke ‘murahan’. Hebatnya, sinema Thai berkali-kali membuktikan bisa menyeimbangkan horror dengan komedi sehingga kedua elemen ini bisa sama-sama berhasil dan saling melengkapi, serta biasanya ditambahkan pula elemen drama yang tak kalah dalam memggerakkan emosi. Persembahan terbaru, Zombie Fighters (ZF) yang disutradarai Poj Arnon (Bangkok Love Story dan trilogi Make Me Shudder) dengan kembali menggandeng idola-idola muda dari trilogi Make Me Shudder.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 10, 2017

The Jose Flash Review
The Mummy (2017)

Di Hollywood, prestise sebuah studio film (apalagi major) bisa jadi diukur dari ada berapa banyak dan seberapa besar franchise yang dikantongi. Jika Disney masih memimpin dengan mimiliki franchise Star Wars dan Marvel Cinematic Universe dan Warner Bros. punya DC Extended Universe dan Harry Potter, Universal Pictures yang juga termasuk major studio sejak lama terus menggali potensi franchise yang ada, selain Fifty Shades dan Fast and Furious yang sebenarnya sudah sangat menguntungkan. Sejak lama pula ia berusaha menghidupkan kembali franchise Dark Universe dengan ‘koleksi’ karakter-karakter monster klasiknya, seperti Mummy, Frankenstein, Dracula, The Invisible Man, dan Wolf Man yang pernah berjaya di era 30-50’an. Sempat mencoba memulai dengan Dracula Untold pada 2014 lalu. Hasilnya sebenarnya tak buruk (dengan budget sekitar US$ 70 juta, menghasilkan US$ 217 juta lebih di seluruh dunia. Hanya saja di pasar domestik cuma berhasil mengumpulkan US$ 56 juta lebih), tapi Alex Kurtzman (sutradara People Like Us dan penulis naskah berbagai film blockbuster, seperti Mission: Impossible III, Star Trek versi 2009, Transformers, serta The Amazing Spider-Man 2) dan pihak studio memutuskan untuk membatalkan Dracula Untold sebagai bagian dari Dark Universe, sementara installment terbarunya, The Mummy lah yang dianggap sebagai film pertama dari konsep pembangunan franchise tersebut.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 9, 2017

The Jose Flash Review
Mantan

Di perfilman nasional ada semacam ‘mitos’ bahwa film Indonesia yang rilis selama bulan puasa Ramadhan akan dijauhi penonton. Secara logika, mungkin karena di bulan Ramadhan orang-orang lebih disibukkan oleh kegiatan buka bersama dan teraweh. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih ada kesempatan untuk menggaet penonton selama punya potensi yang menarik perhatian penonton. Ini terbukti dengan film-film summer blockbuster Hollywood (yang selama beberapa tahun terakhir selalu jatuh sekitar bulan Ramadhan juga) yang tetap berhasil mendulang penonton. Mencoba mematahkan ‘kutukan’ tersebut, Renée Pictures justru memanfaatkan momen Ramadhan untuk perilisan film terbarunya, Mantan, lewat tagline ‘silaturahmi bersama mantan’. Dengan menggandeng aktris-aktris populer, mulai comeback Luna Maya, Karina Nadila, ‘muse’ Renée yang popularitasnya kian melambung sejak memyandang gelar Putri Indonesia Pariwisata 2017, Ayudia Bing Slamet yang juga kian melambung sebagai YouTuber bertajuk #TemanTapiMenikah, Kimberly Ryder, serta debut akting dari penyanyi alumni Indonesian Idol, Citra Scholastika. Dari naskah yang disusun Gandhi Fernando (kembali merangkap sebagai aktor), Mantan mempercayakan pengarahannya kepada  sutradara wanita muda, Svetlana Dea yang mana juga merupakan debut layar lebarnya setelah web-series School of the Dead.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mine

Apa yang akan Anda lakukan jika tak sengaja menginjak ranjau darat? Apakah Anda akan terus berdiam sampai pertolongan datang atau segera menjauh sehingga setidaknya kerusakan yang diakibatkan oleh ranjau bisa diminimalisir? Pertanyaan ‘what if’ itulah yang coba disodorkan oleh duo asal Italia, Fabio Guaglione dan Fabio Resinaro yang bekerja sama menyusun naskah sekaligus menyutradarai film layar lebar pertama mereka bertajuk Mine setelah E:D:E:N (2004), The Silver Rope (2006), dan Y/N: You Lie, You Die (2012). Memanfaatkan konsep satu lokasi setting dan minim karakter, Mine seolah seperti film indie berbudget murah, tapi tak boleh diremehkan begitu saja dengan dukungan cast dari Armie Hammer, Annabelle Wallis, dan Tom Cullen.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates