It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 15, 2018

The Jose Event Review
Sensasi Benar-Benar
Dikelilingi Adegan Film
di Format ScreenX

Pengalaman sinematik terus-terusan mengalami perkembangan dengan berbagai varian yang menawarkan pengalaman lebih. Setelah 3D, IMAX, Sphere X, 4DX, dan Starium, satu format lagi yang turut memberikan semakin banyak pilihan format bagi penonton Indonesia; Screen X. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, September 22, 2017

The Jose Flash Review
Kingsman: The Golden Circle

Di antara banyaknya tokoh agen rahasia, tak banyak yang berhasil menjadi ikon. Apa yang dicapai Kingsman: The Secret Service (2015), berdasarkan komik berseri karya Mark Millar dan Dave Gibbons yang diterbitkan Icon Comics sejak tahun 2012, ini tergolong istimewa. Film pertama saja sudah berhasil menarik perhatian penonton hingga pendapatannya mencapai US$ 414.4 juta di seluruh dunia (menurut Box Office Mojo hingga 23 Juni 2015). Dengan kemasan yang serba fresh, dinamis, kekerasan brutal dan berdarah-darah, dan humor bereferensi pada budaya pop, tentu dengan mudah ia mencuri perhatian secara instan. Bahkan gaya dandanan gentleman a la bangsawan Inggris pun lantas menjadi trend di mana-mana. Ini menandakan kans untuk terus mengembangkannya sebagai franchise sangat besar sekali. Tahun 2017 ini dengan tim yang kurang lebih sama, termasuk aktor Taron Egerton, Mark Strong, bahkan kembalinya Colin Firth yang sempat dimatikan di film pertama, sutradara Matthew Vaughn, hingga penulis naskah Jane Goldman dan Vaughn sendiri. Selain dari itu, tentu saja ada penambahan tokoh-tokoh baru yang diperankan oleh aktor-aktris populer untuk menambah daya tarik installment bertajuk Kingsman: The Golden Circle (KTGC) ini. Mulai Channing Tatum, Halle Berry, Jeff Bridges, Pedro Pascal, Julianne Moore, hingga Sir Elton John! Well, the more the merrier, eh?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, September 21, 2017

The Jose Flash Review
Lucknow Central
[लखनऊ सेंट्रल]

Selain tema dasar cinta, ada dua tema yang sedang jadi trend di sinema Hindi; feminisme dan sistem hukum. Setelah Pink dan Jolly LLB, satu lagi film Hindi yang mencoba menyentil sistem hukum di tanah Hindustan dengan caranya sendiri. Bak perpaduan The Shawshank Redemption dan School of Rock (ya, setidaknya begitu menurut saya), Lucknow Central (LC) ditulis dan disutradarai oleh Ranjit Tiwari yang mana ini merupakan debut layar lebarnya setelah selama ini menjadi associate director dari D-Day, Hero, dan Katti Batti, dengan bantuan dari Aseem Arora yang dikenal sebagai penulis naskah serial populer, Uttaran. Menempatkan Farhan Akhtar (duologi Rock On!!, Zindagi Na Milegi Dobara, Bhaag Milkha Bhaag, dan Wazir), Diana Penty (Cocktail), Deepak Dobriyal (Tanu Weds Manu, Omkara, Prem Ratan Dhan Payo), Rajesh Sharma (Bajrangi Bhaijaan, M.S. Dhoni, Toilet: Ek Prem Katha), dan Ronit Roy (Student of the Year, Kaabil, Sharkar 3, Munna Michael), LC punya cukup banyak daya tarik untuk disimak. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, September 19, 2017

The Jose Flash Review
Gerbang Neraka
[Firegate]

Legacy Pictures dikenal sebagai salah satu PH yang selalu berupaya menyuguhkan varian tema beragam di perfilman nasional. Setelah debut proyek pertama, Kapan Kawin, sebenarnya Firegate yang memadukan horor mitologi dengan petualangan bak film-film bertemakan mummy, adalah proyek kedua mereka. Namun mengusung tema yang masih sangat asing bagi penonton kita tentu beresiko tinggi. Maka butuh waktu sekitar dua tahun untuk menemukan bentuk yang paling bisa diterima penonton kita, moda promosi yang pas, sekaligus memaksimalkan visual effect dan CGI yang menjadi salah satu elemen krusial film. September 2017, Firegate akhirnya siap rilis dengan judul terjemahan, Gerbang Neraka (GN), yang tentu terdengar lebih akrab di telinga penonton umum kita. Disutradarai Rizal Mantovani yang reputasinya sudah melambung di genre horor Indonesia (setidaknya dari segi visual), GN mempertemukan Reza Rahadian, Julie Estelle, dan Dwi Sasono. Tentu nama-nama ini menjadi daya tarik yang begitu besar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, September 15, 2017

The Jose Flash Review
Detroit

Jika Tragedi Mei 1998 menjadi salah satu lembar sejarah terkelam Indonesia, Amerika Serikat pun punya tragedi konflik sosial serupa. Juli 1967 di Kota Detroit, Michigan, terjadi kerusuhan bernuansa rasialis selama berhari-hari yang memakan korban 39 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Menjelang peringatan 50 tahun salah satu sejarah terkelam Amerika Serikat, sutradara Kathryn Bigelow kembali mengajak penulis naskah Mark Boal kembali berkolaborasi setelah kesuksesan The Hurt Locker dan Zero Dark Thirty di berbagai ajang penghargaan internasional. Detroit, tajuk film drama thriller historis yang mereka ulang salah satu kejadian paling mendebarkan di tengah-tengah panasnya kerusuhan rasialis di Detroit. Meletakkan John Boyega yang makin populer pasca perannya sebagai Finn di Star Wars: The Force Awakens, Will Poulter, Algee Smith, dan bintang serial Game of Thrones, Hannah Murray, Detroit agaknya mencoba sekali lagi peruntungan Bigelow dan Boal di berbagai ajang penghargaan bergengsi internasional. Tak terkecuali Golden Globe dan Academy Awards.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Total Chaos

Geliat ‘dinasti’ Punjabi di panggung hiburan tanah air makin melebar dengan berdirinya DePetalz Pictures yang digawangi oleh Gobind Punjabi, saudara Dhamoo dan Raam Punjabi, yang pernah turut memimpin Multivision Plus. Sebagai produksi perdana, DePetalz lewat produser Rajesh Punjabi, putra Gobind, bersama istrinya, Simran Punjabi sebagai produser eksekutif, memilih Total Chaos (TC), sebuah drama komedi yang bahkan sudah memperingatkan penontonnya lewat tagline, “Tinggalkan Logika di Rumah”. Mendapuk sutradara Angling Sagaran dan kembali memasangkan Ricky Harun dan Nikita Willy (plus Gary Iskak pula!), TC bak proyek lanjutan setelah sukses From London to Bali (FLtB) awal tahun 2017 ini meski berasal dari production house yang berbeda (FLtB produksi StarVision Plus). Dari judul dan tagline-nya saja bisa ditebak bagaimana TC mencoba mengajak penonton tertawa terbahak-bahak lewat konsep dunia yang serba absurd. Selain itu digandeng pula Babe Cabita, Ciccio Manassero (7 Hari Menembus Waktu, Juara), Awwe, Yurike Prastica, bahkan sampai Walikota Bandung, Ridwan Kamil, beserta istrinya, Atalia Praratya, dengan harapan lebih banyak menarik minat penonton.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, September 14, 2017

The Jose Flash Review
American Assassin

Hollywood agaknya tak akan pernah kehabisan stok agen rahasia. Satu lagi karakter agen rahasia dari novel yang diangkat ke layar lebar. Adalah Mitch Rapp rekaan Alm. Vince Flynn yang sudah punya 15 seri sejak tahun 1999 dan masih akan terus dilanjutkan oleh Kyle Mills yang rencananya merilis judul baru pada September 2017. CBS Films telah memegang hak adaptasi filmnya sejak 2008 dan produksi pertama dipegang oleh produser Lorenzo di Bonaventura (franchise Transformers, Shooter, Salt, duologi RED, Jack Ryan: Shadow Recruit, dan terakhir, Unlocked) bersama Nick Wechsler. Sayang kondisi studio yang sedang lesu membuat produksi mengalami penundaan. Padahal nama-nama yang sempat diumumkan terlibat cukup menjanjikan. Seperti sutradara Antoine Fuqua, Edward Zwick, hingga Jeffrey Nachmanoff yang akhirnya diputuskan kepada Michael Cuesta (Kill the Messenger), hingga pilihan aktor seperti Gerard Butler, Colin Farrell, hingga Chris Hemsworth untuk merepresentasikan karakter Rapp, hingga akhirnya jatuh ke tangan Dylan O’Brien yang dirasa lebih cocok sesuai dengan usia karakter di film pertama bertajuk American Assassin (AA) ini. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, September 12, 2017

The Jose Flash Review
Tokyo Ghoul
[東京喰種]

Tak mudah mengadaptasi manga atau anime ke bentuk live action. Salah satu alasannya adalah desain universe manga/anime yang kerap kali out of this world. Sulit untuk membuat keputusan adil antara memuaskan fans asli yang tentu mengharapkan seotentik mungkin, sementara ada tujuan lain untuk memperluas range penonton umum yang bisa jadi sulit menerima desain universe jauh dari realistis. Apalagi penggemar-penggemar anime/manga termasuk paling fanatik dibandingkan kultur-kultur populer lain yang lebih fleksibel. Setelah belum lama ini penggemar Gintama dipuaskan dengan keotentikan versi live actionnya sekaligus bisa menghibur non-penggemar lewat self-mocking, kali ini giliran Tokyo Ghoul (TG) karya Sui Ishida yang mencoba peruntungan di ranah live action. Ditangani oleh Kentarõ Hagiwara (sutradara film pendek yang terakhir turut ambil bagian dalam Anniversary atau Anibâsarî), TG didukung jajaran cast yang menarik, antara lain Masataka Kubota (Death Note), Fumika Shimizu (Kamen Rider), dan Yû Aoi (trilogi Ruroni Kenshin). Penggemar di Indonesia termasuk beruntung karena Moxienotion membawa versi live action TG ke bioskop-bioskop nasional mulai 13 September 2017.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Exception

Romansa berlatarkan kejadian nyata, terutama Perang Dunia II, sudah jamak dilakukan. Tak heran, dengan perpaduan demikian, film bisa menarik minat audiens yang lebih luas terutama dari segi jenis kelamin. Lagipula sumber materinya juga sudah banyak di ranah novel sehingga tak perlu susah-susah mencari patokan dasar. Salah satunya adalah novel The Kaiser’s Last Kiss karya Alan Judd yang diterbitkan pertama kali tahun 2003 dan kemudian diadaptasi ke layar lebar tahun 2016. Dengan naskah adaptasi oleh Simon Burke yang sebelumnya menulis naskah FTV dan serial TV dan arahan dari sutradara Inggris, David Leveaux yang mana ini merupakan debut film panjangnya, The Exception didukung nama-nama berkualitas seperti Christopher Plummer, Jai Courtney (Suicide Squad), dan Lily James yang belum lama ini kita lihat di Baby Driver
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Renegades

Kiprah Luc Besson untuk mengimbangi citra sinema Eropa secara keseluruhan yang melekat pada arthouse dengan film-film aksi ringan bercitarasa blockbuster Hollywood tapi tentu dengan kekhasannya tersendiri memang seringkali menghadirkan sesuatu yang menarik. Paska Valerian yang ambisius, Besson menyiapkan Renegades yang sejatinya telah diumumkan sejak 2014 dan mulai diproduksi Apri 2015, tapi terus mengalami penundaan penayanganan hingga September 2017. Dengan naskah yang disusunnya bersama Richard Wenk (The Mechanic, The Expendables 2, The Equalizer, The Magnificent Seven versi 2016, hingga Jack Reacher: Never Go Back) dan bangku penyutradaraan yang dipercayakan kepada Steven Quale (sutradara unit kedua di Titanic dan James Cameron’s Avatar yang juga pernah menyutradarai Final Destination 5 dan Into the Storm), Renegades menawarkan aksi petualangan pemburuan harta karun dengan background fantasi yang bisa dikatakan versi realistis dari legenda El Dorado. Di jajaran cast ada Ewen Bremner (Trainspotting), Sullivan Stapleton (300: Rise of an Empire), Sylvia Hoeks (upcoming, Blade Runner 2049), dan J.K. Simmons. Bukan produksi yang high profile, tapi tema pemburuan harta karun yang akhir-akhir ini sudah sangat jarang diangkat membuat Renegades tetap menarik untuk disimak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates