Selamat Hari Film Nasional

Celebrate Film Nasional by watching Film Indonesia. Find one suits you here.

The Guys

Raditya Dika on his following project in 2017.
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Opens April 19.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Opens April 19.

Fast and Furious 8

When someone has broken the solid family, will they still believe in theirs?
Read more.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, April 18, 2017

The Jose Flash Review
The Neighbor

John bekerja untuk bos mafia besar di Cutter, kota kecil di Mississippi. Tugasnya hanya mengganti plat nomor mobil para kurir yang mengantar narkoba. Berniat meninggalkan dunia hitam selama-lamanya, ia dan sang istri, Rosie, memutuskan untuk berhenti setelah uang mereka terkumpul cukup. Sehari sebelum pekerjaan terakhir, mereka berdua kedatangan tetangga yang misterius, Troy. Perkenalan yang canggung tersebut membuat Rosie semakin curiga tentang sosok Troy. Hingga hari H rencana kabur dilancarkan, John menemukan Rosie hilang dari rumahnya. Maka John nekad masuk ke rumah Troy. Tak hanya Rosie, ia juga menemukan rahasia lain dari Troy. Permainan hide-and-seek yang mendebarkan pun dimulai.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 16, 2017

The Jose Flash Review
Aftermath

Meski sudah terlanjur lekat dengan image action hero, Arnold Schwarzenegger sesekali mengambil peran yang lebih serius di genre luar action. Setelah tahun 2015 lalu ‘tampil serius’ di drama zombie bertajuk Maggie, tahun ini ia kembali mencoba peran drama di film yang terinspirasi dari kejadian nyata tabrakan antara pesawat Bashkirian Airlines Flight 2937 dan pesawat kargo DHL Flight 611 di langit Überlingen, Jerman tahun 2002 silam. Diproduseri oleh Darren Aronofski, naskah film bertajuk Aftermath ini disusun oleh Javier Gullón yang dikenal lewat adaptasi Enemy (disutradarai Denis Villeneuve – 2013), sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Elliott Lester (Blitz yang dibintangi Jason Statham – 2011). Selain Schwarzenegger, Aftermath didukung pula oleh Maggie Grace (trilogi Taken), Scoot McNairy (Batman v Superman: Dawn of Justice, 12 Years a Slave, dan Argo), dan Kevin Zegers (masih ingat Josh Framm di Air Bud?).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, April 14, 2017

The Jose Flash Review
The Guys

Selepas tak ada lagi materi dari novelnya yang diangkat ke layar lebar, Raditya Dika menjadi bebas untuk mengeksplor ide-ide di luar ranah yang membesarkan namanya. Setelah bermain-main dengan komedi absurd nonsensical di Hangout, ia menawarkan racikan berbagai elemen ‘hati’ ke dalam satu adonan untuk proyek keduanya bersama Soraya Intercine Film setelah Single yang menyentuh angka 1.3 juta penonton lebih. Konon kesuksesan ini membuat Soraya berani mengontrak Dika untuk beberapa film sekaligus. Namun dengan pengumuman akan vakum sementara setelah The Guys dan eksplorasi yang dilakukannya dari film ke film selama ini, come back Dika nantinya jadi sesuatu yang layak untuk ditunggu-tunggu. Meanwhile, kita nikmati dulu suguhan teranyarnya, The Guys yang didukung Pevita Pearce, Marthino Lio, Indra Jegel, Tarsan, sampai Widyawati Sophiaan. Tak ketinggalan Pongsiree Bunluewong atau Pukaii, mantan atlet berkuda yang mendapatkan peran melalui audisi, dan bintang tamu aktris Thailand terkenal, Beifern Pimchanok yang di sini dikenal lewat Crazy Little Thing Called Love. Pemilihan aktor-aktris ini tentu sudah menjadi daya tarik tersendiri, selain tentu saja eksplorasi seperti apa yang ditawarkan Dika kali ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 13, 2017

The Jose Flash Review
Fast & Furious 8
[The Fate of the Furious]

Tak perlu diragukan lagi, franchise Fast and Furious (FF) sudah menjelma menjadi brand jaminan mutu berkat penggalian pengembangan cerita yang meski sudah semakin melebar ke mana-mana tapi punya relevansi dengan titik awal serta tentu saja inovasi-inovasi sekuens spektakel yang justru menjadi alasan utama penonton selalu rela berbondong-bondong ketika installment terbarunya rilis. Sudah sampai installment ke-delapan tapi masih belum menunjukkan tanda-tanda kehabisan energi. Justru dengan tambahan karakter di tiap installment membuat seri-seri FF makin meriah. Naskahnya masih dikerjakan oleh Chris Morgan (penulis naskah franchise FF sejak The Fast and the Furious: Tokyo Drift - 2006), sementara bangku penyutradaraan kali ini dipercayakan kepada F. Gary Gray (A Man Apart, The Italian Job, Be Cool, dan Straight Outta Compton) yang menjadi sutradara kulit hitam kedua di franchise FF (yang pertama John Singleton di 2 Fast 2 Furious). Aktor-aktris lini terdepan kembali hadir, ditambah kembalinya karakter-karakter yang sempat absen, dan tentu saja karakter-karakter baru yang makin menambah kemeriahan installment yang diberi tajuk The Fate of the Furious di negara asalnya (Fast and Furious 8 – FF8 - di beberapa negara lain).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 9, 2017

The Jose Flash Review
Miss Sloane

Politik dan court drama bukanlah genre yang populer. Selain temanya yang cenderung berat dan/atau butuh pengetahuan spesifik untuk memahaminya, image membosankan membuat kedua tema ini cenderung dijauhi penonton. Padahal banyak court drama dan film politik yang sebenarnya telah diramu sedemikian rupa sehingga dengan mudah dipahami oleh penonton terawam sekalipun. Miss Sloane (MS) yang naskahnya masuk top five Hollywood’s 2015 Black List dan ditulis oleh satu orang saja, yaitu Jonathan Perera. Menariknya, Perera belum pernah menulis naskah film apapun sebelumnya. Naskah MS mulai ditulisnya saat masih berusia 30 tahun dan tinggal di Asia. Siapa sangka naskah debutan ini menarik minat banyak produser. Bahkan seorang Steven Spielberg mengaku fan berat naskah tersebut dan sempat berniat menyutradarainya. Karena faktor jadwal yang sudah terlampau padat, John Madden (Shakespeare in Love, The Debt, The Best Exotic Marigold Hotel) akhirnya terpilih untuk duduk di bangku sutradara. Nama Jessica Chastain menjadi satu-satunya kandidat aktris pengisi karakter utama menurut visi Madden. Apalagi ini merupakan kerjasama kedua antara Madden dan Chastain setelah The Debt. Didukung Mark Strong, Gugu Mbatha-Raw, dan John Lithgow, MS lantas menjadi media dan critics darling. Sempat ada isu propaganda terkait topik kepemilikan senjata api yang diangkat menjadi subjek. Bagaimanapun, kontroversi bisa menjadi media promosi yang ampuh. Setidaknya menjadi bahan pembicaraan dan/atau menumbuhkan rasa penasaran. Untuk film yang tergolong segmented, ini jelas punya keuntungan tersendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, April 8, 2017

The Jose Flash Review
Get Out


Tema ‘black’ atau kulit hitam beberapa tahun belakangan ini memang menjadi trend di Hollywood. Tentu saja seiring dengan isu anti-racism yang sampai sekarang masih menjadi topik hangat di Amerika Serikat. Jika biasanya tema ini dituangkan dalam genre drama biografi, drama sosial, atau drama romantis (interracial), maka apa yang dilakukan oleh Jordan Peele (dikenal lewat acara sketsa komedi TV, Key and Peele) sebagai debut penyutradaraannya di layar lebar, Get Out (GO) ini tergolong unik. Ia memasukkan isu ‘black’ dan anti-racism dari sudut pandang yang berbeda dan lewat genre mystery thriller a la Hitchcock. Tak heran jika kemudian produser horror yang paling jeli memproduksi horror/thriller murah tapi berpotensi laris, Jason Blum, lewat Blumhouse tertarik untuk memproduksinya. Siapa sangka pula jika GO ternyata menjadi kejutan di box office Amerika Serikat, dengan mengumpulkan hingga US$ 134 juta (di Amerika Serikat saja dan masih terus bertambah). Padahal budgetnya ‘hanya’ US$ 5 juta! Dengan nama-nama aktor/aktris yang belum dikenal, ini adalah prestasi yang jarang terjadi. Masih ditambah resepsi kritikus yang rata-rata positif. Semakin besarlah penonton di belahan dunia lain akan seberapa unik dan dahsyat mystery thriller yang ditawarkan Peele ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, April 7, 2017

The Jose Flash Review
Night Bus


Thriller bukanlah genre yang populer di film Indonesia meski ‘saudara dekat’-nya, horror, justru menjadi salah satu genre yang paling favorit. Mungkin ada baiknya film-film thriller perlu ‘menjual diri’ dengan label horror dan menambahkan formula-formula horror dasar sebagai strategi memperkenalkan thriller ke penonton Indonesia secara perlahan. Namun ke-‘belum populer’-an thriller tidak menyusutkan niat sineas-sineas kita untuk menyuguhkan thriller yang berbobot. Joko Anwar beberapa kali mempresentasikan thriller berkelas internasional, misalnya lewat Kala: Dead Time, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. Ada juga Midnight Show dan bahkan Rumah Dara yang sebenarnya basically thriller.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Labuan Hati


Film adalah medium yang paling tepat untuk mempromosikan pariwisata. Dengan dukungan audio-visual yang bisa menangkap atmosferik sebuah lokasi pariwisata dan mempresentasikannya secara menggiurkan (bahkan tak jarang melebihi kondisi lokasi aslinya), film jelas punya kelebihan terunggul sebagai medium promosi. Tak salah jika kemudian banyak dinas pariwisata dari berbagai daerah memilih untuk meng-hire sineas-sineas kita untuk memanfaatkan keindahan alam dan budaya yang kita miliki, sekedar untuk latar cerita maupun subjek utama dari film. Belum lama ini kita disuguhkan Trinity: The Nekad Traveler yang jelas-jelas bertema wisata dan membawa kita ke Lampung dan beberapa lokasi wisata lainnya, kini giliran Lola Amaria yang mengajak kita berjalan-jalan ke Pulau Komodo dan Labuan Bajo bersama Nadine Chandrawinata yang image-nya sangat traveler, Kelly Tandiono, supermodel yang kian sering berakting, Ully Triani yang pernah mencuri perhatian di Stay with Me, dan Ramon Y. Tungka, lewat film bertajuk Labuan Hati (LH). Sementara naskahnya ditulis oleh Titien Wattimena yang daftar filmografinya sudah puluhan, termasuk Minggu Pagi di Victoria Park dimana ia pernah bekerja sama dengan Lola.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 6, 2017

The Jose Flash Review
Attraction
[Притяжение]

Diam-diam sinema Rusia ternyata terus berupaya untuk unjuk gigi di pasar internasional, tak terkecuali Indonesia. Setelah berturut-turut menyuguhkan Flight Crew, Earthquake, dan The Guardians, Moxienotion kembali mengimpor film Rusia yang kali ini bertemakan sci-fi. Attraction (Prityazhenie) dibesut sutradara sekaligus aktor yang pernah mendapatkan penghargaan Generation Award di MTV Movie Award Rusia 2008, Fedor Bondarchuk, sementara naskahnya disusun oleh duo Oleg Malovichko dan Andrey Zolotarev yang pernah bekerja sama sebelumnya di film drama fantasi keluarga, Prizrak (2015). Aktris muda Irina Starshenbaum digandeng untuk mengisi peran utama, kembali berpasangan dengan aktor Alexander Petrov setelah di film pendek Podarok Very (2016). Dengan trailer yang menjanjikan tampilan visual dan special effect mencengangkan, Attraction terlihat begitu menarik untuk disaksikan di layar lebar.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
R.A.I.D.: Special Unit
[R.A.I.D.: Dingue]

Di tengah image ‘film Eropa itu artsy, berat, cenderung ke boring’, sinema Perancis sebenarnya punya cukup banyak film-film yang nge-pop dan bisa dipahami pun dinikmati oleh range penonton yang lebih universal, terutama di genre komedi. Sayangnya sinema Perancis tak punya banyak slot di ruang putar Indonesia (bahkan Festival Sinema Perancis yang digagas pusat kebudayaan Perancis Indonesia selama belasan tahun harus absen di tahun 2016 lalu). Maka ketika ada film Perancis yang diputar untuk umum di bioskop kita dan punya jarak jadwal tayang yang tak begitu jauh dengan di negara aslinya, tentu menjadi kesempatan langka yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi nama Dany Boon, seorang aktor yang juga merambah penulis naskah dan akhir-akhir ini, sutradara, termasuk diperhitungkan di negara asalnya. Kembali menggandeng aktris Alice Pol setelah Supercondriaque (2014), Boon kali ini menawarkan sebuah komedi dengan sentilan emansipasi wanita berlatar pelatihan tim pengamanan khusus bak S.W.A.T. bernama R.A.I.D. (saya sempat berpikir ini merupakan parodi dari The Raid kita, tapi ternyata bukan). R.A.I.D. Dingue atau versi internasionalnya, R.A.I.D. Special Unit (RSU) menurut Boon bereferensi pada film-film aksi klasik dari Jean-Paul Belmondo dan film-film aksi Amerika seperti franchise Die Hard yang dibintangi Bruce Willis. Dengan sentuhan komedi khas Boon, setidaknya RSU menjanjikan sebuah tontonan ringan yang menghibur sekaligus seru.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates