5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies

What if Ario Bayu, Muhadkly Acho, Arifin Putra Dwi Sasono, and Cornelio Sunny play dumb and fight the zombies?
Opens Dec 14.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Read more.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Read more.

Star Wars: The Last Jedi

What path Rei will choose? The Jedi or the Sith?
Opens Dec 15.

Chrisye

Witness the side of Indonesian music legend you never know before.
Opens Dec 7.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 15, 2018

The Jose Event Review
Sensasi Benar-Benar
Dikelilingi Adegan Film
di Format ScreenX

Pengalaman sinematik terus-terusan mengalami perkembangan dengan berbagai varian yang menawarkan pengalaman lebih. Setelah 3D, IMAX, Sphere X, 4DX, dan Starium, satu format lagi yang turut memberikan semakin banyak pilihan format bagi penonton Indonesia; Screen X. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 1, 2017

The Jose Flash Review
Mata Batin

Trend horor di sinema Indonesia dimanfaatkan dengan baik oleh Hitmaker Studios sebagai anak perusahaan Soraya Intercine Films yang sejatinya sudah konsisten di genre tersebut sejak 2012. Setelah sukses The Doll 2 baik secara komersial maupun pencapaian kualitas, mereka mencoba peruntungan lagi lewat Mata Batin (MB) dengan menggandeng Jessica Mila, Denny Sumargo, Citra Prima, Epy Kusnandar, dan Bianca Hello yang belum lama ini kita lihat di Mereka yang Tak Terlihat. Sementara bangku sutradara masih diduduki oleh Rocky Soraya sendiri, naskah pun masih dipercayakan kepada Riheam Junianti yang sudah menulis semua naskah film-film produksi Hitmaker Studios dengan sekali lagi dibantu oleh Fajar Umbara setelah The Doll 2
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 29, 2017

The Jose Flash Review
Daddy's Home 2

Will Ferrell selama ini dikenal sebagai salah satu komedian Amerika Serikat yang guyonannya punya segmen tersendiri. Tak semua bisa memahami letak kelucuan humornya, sementara pihak lain ada yang dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkahnya. Banyak materi humornya yang terkesan kasar dan tak senonoh sehingga image film-film komedinya seringkali dilabeli dewasa. Maka ketika muncul sebagai seorang ayah yang berusaha mencuri hati anak-anak tirinya sekaligus bersaing dengan ayah kandung mereka, Daddy’s Home (DH) menjadi film yang menarik perhatian sekaligus mengundang rasa penasaran. Bisakah seorang Will Ferrell tetap lucu dengan materi yang ramah-keluarga? Nyatanya DH berhasil mendulang total US$ 242.8 juta di seluruh dunia meski review kritikus termasuk beragam. Wajar jika ada yang benci sekali tapi ada pula yang berhasil terhibur (polling di CinemaScore rata-rata memberikan B+). Kesuksesan ini menggoda Paramount untuk membuatkan sekuelnya. Sean Anders (Horrible Bosses 2) masih dipercaya duduk di bangku sutradara dengan naskah yang juga masih dibantu oleh John Morris (Hot Tub Time Machine, We’re the Millers, Horrible Bosses 2). Formula yang dipakai adalah menambahkan karakter-karakter baru yang diyakini mampu ‘memperkeruh’ keadaan. Bertajuk Daddy’s Home 2 (DH2), kali ini ada Mel Gibson dan John Lithgow yang didapuk mengisi peran ayah dari Mark Wahlberg dan Will Ferrell. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Murder on the Orient Express
[2017]

Penggemar genre detektif pasti mengenal sosok Hercule Poirot (baca: Erkyul Pwarou), detektif fiktif asal Belgia rekaan Agatha Christie yang sudah muncul dalam 33 judul novel, lebih dari 50 cerpen sejak tahun 1920, dan sudah diadaptasi dalam berbagai medium, seperti sandiwara radio, film layar lebar, dan TV. Tak hanya di Inggris dan Amerika Serikat, tapi juga di Jerman, Rusia, bahkan hingga Jepang. Namun judul yang paling sering diadaptasi adalah Murder on the Orient Express (MotOE). Setelah versi tahun 1974 arahan Sidney Lumet dengan ensemble cast kelas A macam Albert Finney, Lauren Bacall, Ingrid Bergman, Jacqueline Bisset, Jean-Pierre Cassel, Anthony Perkins, Sean Connery, dan Vanessa Redgrave, versi FTV tahun 2001 yang dibintangi Alfred Molina, serta salah satu episode serial Agatha Christie’s Poirot, 20th Century Fox berinisiatif untuk memperkenalkan kembali sosok Hercule Poirot ke generasi masa kini dengan menunjuk Michael Green (Logan, Alien: Covenant, Blade Runner 2049) selaku penyusun naskah adaptasi dan Kenneth Branagh sebagai sutradara. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 28, 2017

The Jose Flash Review
Tumhari Sulu
[तुम्हारी सुलु]

Di antara jajaran aktris papan atas sinema Hindi (baca: Bollywood), Vidya Balan termasuk salah satu yang paling dihormati dan ‘dipandang’, terutama lewat film-film seperti Salaam-E-Ishq, Ishqiya, No One Killed Jessica, The Dirty Picture, hingga yang paling melambungkan namanya, Kahaani. Di tengah tema women empowerment yang makin nyaring didengungkan sinema Hindi akhir-akhir ini, Balan mengambil peran sebagai seorang ibu rumah tangga berpendidikan rendah tapi bermimpi besar, Sulochana atau yang biasa dipanggil Sulu, lewat Tumhari Sulu (TS - dalam bahasa Inggris: Your Sulu). Merupakan debut penulisan naskah serta sutradara film panjang dari Suresh Triveni (sebelumnuya dikenal lewat film-film pendek), TS didukung pula oleh penampilan aktris sekaligus mantan Miss India yang baru saja kita lihat di Qarib Qarib Singlle, Neha Dhupia, Manav Kaul (Kai po che!, Wazir, Jolly LLB 2), dan debut layar lebar seorang penyiar radio di Red FM 93.5, RJ Malishka Mendonsa.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 27, 2017

The Jose Flash Review
Blade of the Immortal
[無限の住人]

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Coco

Día de Muertos atau Day of the Dead adalah perayaan khas Meksiko untuk mengenang sekaligus memberikan dukungan atas perjalanan spiritual bagi anggota keluarga dan sahabat yang telah meninggal. Melibatkan altar bernama ofrendas dan persembahan makanan/minuman yang disukai oleh almarhum/almarhumah, perayaan serupa sebenarnya juga dimiliki budaya-budaya lain dengan sebutan serta tradisi yang berbeda-beda tapi punya satu tujuan: mengenang mereka yang telah meninggal. Meski ada beberapa agama atau aliran yang menganggap tradisi semacam ini sebagai bentuk penyembahan berhala, tradisi semacam ini masih dengan mudah ditemui di belahan dunia manapun. Dunia sinema pun berkali-kali mengangkat budaya Día de Muertos, baik sebagai tema utama maupun salah satu background adegan. Yang masih paling segar dalam ingatan adalah film animasi The Book of Life (2014) produksi Twentieth Century Fox Animation. Disney-Pixar pun tak mau kalah dengan proyek serupa yang tergolong ambisius. Memakan waktu produksi hingga memecahkan rekor terlama dalam sejarah mereka, yaitu mencapai enam tahun, proyek Coco dipercayakan kepada Lee Unkrich (co-director Toy Story 2, Monsters, Inc., Finding Nemo, Toy Story 3) dan Adrian Molina (storyboard artist Toy Story 3 dan salah satu penulis The Good Dinosaur). Pendatang baru, Anthony Gonzalez, dipercaya mengisi suara karakter utama, didukung Gael García Bernal, Benjamin Bratt, dan Alanna Ubach. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Marrowbone

Sinema Spanyol di mata internasional selama ini terepresentasikan oleh nama-nama sineas seperti Alejandro Amenábar (Open Your Eyes, The Others), Pedro Almodóvar (The Skin I Love In, Volver), dan J.A. Bayona (The Orphanage, The Impossible, A Monster Calls, dan upcoming, Jurassic World: Fallen Kingdom). Sergio G. Sánchez yang selama ini dikenal sebagai penulis naskah dari The Orphanage dan The Impossible, agaknya layak untuk menyusul masuk daftar tersebut lewat karya terbarunya, Marrowbone. Didukung aktor dan aktris yang masih ‘segar’ seperti George MacKay (Defiance, Captain Fantastic), Charlie Heaton (Shut In, serial Stranger Things), Anya Taylor-Joy (The VVitch, Morgan, Split), Mia Goth (Everest, A Cure for Wellness), dan Kyle Soller (Anna Karenina, Fury), ia menawarkan horor psikologis dengan pendekatan ikatan keluarga, sebagaimana The Orphanage dan bahkan The Impossible.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, November 25, 2017

The Jose Flash Review
Keluarga Tak Kasat Mata

Maraknya platform digital yang semakin beragam ternyata tak menyurutkan popularitas Kaskus sebagai forum dunia maya terbesar di Indonesia. Salah satu fenomena terakhirnya adalah thread Keluarga Tak Kasat Mata (KTKM) yang membagi kisah nyata pengalaman seorang mahasiswa yang kerja part-time di sebuah kantor bergedung horor di Yogyakarta bernama Bonaventura D. Genta. Thread ini lantas menjadi viral di Indonesia hingga dirangkum dalam sebuah buku novel dan adaptasi layar lebarnya dibeli oleh Max Pictures (Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 dan Baracas) dengan naskah adaptasi yang disusun oleh Laila Nurazizah (Adriana, Untuk Angeline, Danur: I Can See Ghosts) dan Evelyn Afnila, serta penyutradaraan yang dipercayakan kepada Hedy Suryawan (Rock N Love). Jajaran cast yang dipasang pun cukup populer. Mulai Deva Mahenra, Miller Khan, Ganindra Bimo, Kemal Palevi, Aura Kasih, Gary Iskak, Weezy, hingga Tio Pakusadewo. Di tengah boomingnya film horor di sinema Indonesia, KTKM menjadi salah satu sajian yang paling banyak ditunggu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Breathe

Selama ini kita mengenal Andy Serkis sebagai sosok aktor motion-capture pengisi karakter-karakter CGI macam Gollum di The Lord of the Rings Trilogy, Kong di King Kong, dan Caesar di Rise of the Planet of the Apes Trilogy. Siapa sangka ternyata ia punya bakat terpendam sebagai sutradara. Kiprah debutnya adalah Breathe, biografi tentang pasangan inspiratif yang mengubah persepsi dunia tentang penderita polio, Robin dan Diana Cavendish yang merupakan orang tua dari sahabat sekaligus partner bisnisnya, Jonathan Cavendish (keduanya menjalankan The Imaginarium, studio spesialis teknik motion-capture yang pernah menangani Rise of the Planet of the Apes Trilogy, Avengers: Age of Ultron, dan Star Wars: Episode VII - The Force Awakens). Proyek ini bisa jadi sebuah keberuntungan sekaligus menjadi tantangan yang tak ringan bagi Serkis mengingat materinya tergolong serius tapi juga punya potensi menjadi sajian klise dan terjerumus ke dalam tearjerker eksploitatif bertema penyakit (saya menjulukinya sebagai ‘disease-porn’). William Nicholson yang punya daftar filmografi mengesankan seperti Nell, First Knight, Gladiator, Elizabeth: The Golden Age, Les Misérables, Mandela: Long Walk to Freedom, Unbroken, Everest dipercaya menyusun naskahnya, dengan bintang Andrew Garfield, Claire Foy (Season of the Witch, Vampire Academy, The Lady in the Van), dan Tom Hollander (About Time, Mission: Impossible - Rogue Nation).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates